Selasa, Mei 19, 2026
No menu items!

SIGAP Sejahtera Jadikan Berau Percontohan Pembangunan Hijau Berbasis Kampung

Berau, Satu Indonesia – Pemerintah Kabupaten Berau terus memperkuat komitmen pembangunan hijau berbasis kampung melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan ekonomi lokal.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam kegiatan Ekspos Program SIGAP Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara bertema “Simpul Hijau: Merayakan Kolaborasi Pembangunan Daerah dan Desa/Kampung” di Yogyakarta, Selasa 12 Mei 2026.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Berau, Hendratno, hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Berau dalam forum yang mempertemukan pemerintah daerah, akademisi, pemerintah pusat, hingga lembaga mitra pembangunan.

“Kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik pembangunan desa berkelanjutan yang telah berjalan di sejumlah daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara,” katanya.

Program SIGAP atau Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan sendiri dikembangkan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) sejak 2010. Pendekatan tersebut menitikberatkan pada penguatan tata kelola desa, perlindungan sumber daya alam, serta pengembangan penghidupan masyarakat berbasis potensi lokal dan berkelanjutan.

Di Kabupaten Berau, pendekatan itu berkembang melalui Program SIGAP Sejahtera yang telah menjangkau seluruh kampung.

Pendampingan dilakukan mulai dari penyusunan perencanaan pembangunan kampung, penguatan kapasitas masyarakat, hingga pengembangan ekonomi lokal yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan tantangan pembangunan di wilayah penyangga kawasan hutan. Dalam forum ekspos, para narasumber menilai pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian alam, terutama di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan tekanan terhadap kawasan hutan.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, dalam keterangannya menilai Akademi Kampung SIGAP atau AKS menjadi salah satu contoh pembelajaran sosial yang berhasil mendorong lahirnya kepemimpinan kampung yang adaptif dan kolaboratif.

Menurut Sri, pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga penguatan kapasitas sumber daya manusia dan keberlanjutan lingkungan.

“Akademi Kampung SIGAP menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat kampung untuk membangun kepemimpinan yang lebih visioner dan mampu menjawab tantangan pembangunan ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Program Terestrial YKAN, Ruslandi, mengatakan keberhasilan pendekatan SIGAP tidak terlepas dari peran pendamping kampung yang bekerja langsung bersama masyarakat. Pendampingan dilakukan untuk membantu warga mengenali potensi desa serta menyusun arah pembangunan secara partisipatif.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga pendamping menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program pembangunan hijau di tingkat kampung.

Kehadiran Pemerintah Kabupaten Berau dalam forum tersebut juga memperlihatkan upaya daerah dalam memperkuat posisi kampung sebagai ujung tombak pembangunan berkelanjutan.

Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pendekatan pembangunan hijau dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Praktik baik yang berkembang di Berau diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia, terutama dalam membangun desa yang mandiri, produktif, sekaligus mampu menjaga kelestarian sumber daya alam untuk generasi mendatang.

TERPOPULER

TERKINI