Satu Indonesia, Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Balikpapan (DKP3) terus berupaya memperkuat sektor pertanian di tengah keterbatasan lahan produksi. Saat ini, luas sawah yang siap ditanami di wilayah Balikpapan hanya sekitar 40 hektare dari total kawasan pertanian yang tersedia.
Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahyuningsih mengatakan, para petani di kota tersebut tersebar di berbagai kecamatan, mulai dari Balikpapan Timur, Balikpapan Utara, Balikpapan Barat, Balikpapan Selatan hingga Balikpapan Tengah. Namun luas lahan pertanian yang terbatas membuat produksi pangan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Petani di Balikpapan tersebar di beberapa wilayah. Tapi lahan sawah kita memang terbatas,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Sri menjelaskan total lahan yang masuk dalam kawasan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) di Balikpapan mencapai sekitar 98 hektare. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 40 hektare yang sudah siap ditanami karena telah memiliki pematang sawah dan infrastruktur dasar.
Sementara itu, sekitar 58 hektare lainnya masih berupa lahan dengan vegetasi lebat sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pertanian.
“Yang sudah siap ditanami sekitar 40 hektare. Sisanya sekitar 58 hektare masih berupa vegetasi berat, sehingga perlu dilakukan penataan secara bertahap,” ujar Sri.
Untuk meningkatkan kapasitas produksi pertanian, pemerintah kota berencana melakukan rehabilitasi lahan sawah yang sudah ada. Menurut Sri, langkah tersebut berbeda dengan program cetak sawah baru.
Ia menjelaskan rehabilitasi dilakukan pada lahan yang sebelumnya sudah berfungsi sebagai sawah, tetapi membutuhkan perbaikan agar kembali produktif.
“Kalau cetak sawah itu dari lahan yang sebelumnya bukan sawah menjadi sawah. Sementara yang kita rencanakan lebih ke rehabilitasi lahan yang sudah ada,” kata Sri.
Keterbatasan lahan pertanian di Balikpapan berdampak pada tingginya ketergantungan kota tersebut terhadap pasokan pangan dari daerah lain. Sri menyebut sekitar 90 persen kebutuhan pangan masyarakat masih dipenuhi dari luar daerah.
Bahkan untuk komoditas beras, Balikpapan hampir sepenuhnya bergantung pada pasokan dari wilayah lain.
“Kalau beras, ketergantungan kita bisa dibilang hampir 100 persen dari daerah lain,” ujarnya.
Produksi padi dari lahan sawah yang ada di Balikpapan selama ini umumnya hanya mencukupi kebutuhan petani sendiri. Sebagian hasil panen juga dijual kepada Perum Bulog untuk memperkuat cadangan pangan pemerintah.
Sri mengatakan Bulog saat ini memberikan jaminan harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan tersebut dinilai membantu petani menjaga stabilitas harga hasil panen.
“Petani biasanya senang kalau gabahnya dibeli Bulog karena ada kepastian harga,” kata Sri.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Pemerintah Kota Balikpapan tetap berupaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian melalui pendampingan kelompok tani, peningkatan kapasitas petani, serta optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian yang tersedia.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah.

