Senin, Mei 11, 2026
No menu items!

Satu Lagi Pesut Mahakam Mati di Kukar, Populasi Terus Menyusut

Kota Bangun, Satu Indonesia – Populasi mamalia air langka dan dilindungi di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, kembali menjadi sorotan. Seekor Pesut Mahakam jantan bernama ‘Lion’ ditemukan mati di perairan Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Selasa (05/05/2026).

Pesut tersebut termasuk individu lama yang telah teridentifikasi sejak tahun 1999 dan diperkirakan berusia sekitar 30 tahun.

Kematian Lion pun menjadi catatan pertama kematian Pesut Mahakam sepanjang tahun 2026. Itu artinya, kini populasi mamalia air langka dan dilindungi di Sungai Mahakam hanya tersisa 65 ekor.

Dalam keterangannya, Kamis (07/05/2026), Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie membeber bahwa laporan awal diterima dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK RASI) setelah informasi kematian pesut beredar di media sosial.

Menurut Syarif, proses evakuasi melibatkan sejumlah pihak mulai dari Pokdarwis Desa Pela, YK RASI, Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak hingga Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Kalimantan Timur (Kaltim).

“Ada PDHI karena memang kita perlu dokter hewan untuk mengambil sampelnya,” jelasnya.

Dari lokasi penemuan, bangkai pesut kemudian dibawa menuju basecamp YK RASI di Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun. Untuk memperlambat pembusukan, tubuh pesut segera diberi es batu dan ditutupi dengan terpal sambil menunggu kedatangan dokter hewan dan tim nekropsi dari Samarinda.

Setelah melakukan penimbangan dan pengukuran tubuh pesut, proses nekropsi dimulai oleh dokter hewan bersama tim konservasi guna mengambil sejumlah sampel organ untuk diperiksa di laboratorium.

Proses nekropsi selesai sekitar pukul 18.42 WITA,  jasad pesut dikuburkan di sekitar basecamp YK RASI.

Dari hasil identifikasi itulah diketahui bahwa pesut tersebut merupakan ‘Lion’, salah satu individu Pesut Mahakam yang telah lama terdata oleh YK RASI.

Secara visual, tim juga menemukan kondisi gigi Lion yang sudah banyak mengalami pengikisan, menandakan usia pesut tersebut memang sudah tua.

“Kami juga melihat secara visual giginya sudah mulai terkikis. Hampir di bagian rahangnya memang sudah agak terkikis semua. Jadi memang teridentifikasi sudah agak tua,” tuturnya.

Meski telah dilakukan nekropsi, penyebab pasti kematian Lion masih dalam tahap pendalaman. Sampel organ yang diambil diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Pesut Jadi Korban Padatnya Lalu Lintas Ponton Batu Bara

Balai Pengelolaan (BP) Kelautan Pontianak juga menyebut kawasan tempat ditemukannya pesut tersebut memang merupakan jalur sibuk aktivitas angkutan batu bara yang dinilai berpotensi mengganggu habitat mamalia air langka itu.

Syarif mengatakan bahwa lokasi penemuan Lion berada tidak jauh dari jalur keluar masuk ponton batu bara dari anak Sungai Belayan menuju Sungai Mahakam.

“Kalau aktivitas di daerah ditemukan itu memang padat lalu lintas kapal. Karena memang di daerah ditemukannya Lion itu ada anak Sungai Belayan yang biasanya dilewati ponton-ponton batu bara untuk membawa hasil tambang ke sungai besar,” jelasnya.

Menurutnya, aktivitas ponton di kawasan ini berlangsung cukup intens hampir setiap hari. Bahkan, tidak sedikit ponton yang parkir di pinggiran Sungai Mahakam dekat habitat pesut.

Kepadatan lalu lintas ponton secara tidak langsung memberi tekanan terhadap habitat alami Pesut Mahakam yang selama ini hidup di kawasan konservasi perairan Mahakam.

Kendati demikian, ia mengatakan bahwa pemerintah bersama berbagai pihak saat ini terus mendorong koordinasi lintas instansi agar aktivitas transportasi sungai dapat lebih teratur dan tidak memperparah gangguan terhadap habitat pesut.

Selain aktivitas transportasi sungai, praktik illegal fishing juga disebut masih menjadi ancaman bagi kelestarian Pesut Mahakam. Syarif mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan penangkapan ikan menggunakan setrum maupun racun karena hal itu dapat membahayakan ekosistem sungai.

Diketahui, habitat utama Pesut Mahakam saat ini berada di empat kecamatan di Kutai Kartanegara (Kukar), yakni Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, dan Muara Kaman.

Keempat wilayah tersebut ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan Mahakam berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan Nomor 49 Tahun 2022.

TERPOPULER

TERKINI