Kamis, Juli 23, 2026
No menu items!

Publika TVRI Kaltim: Saat Literasi Jadi PR Besar di Bumi Etam

Samarinda, Satu Indonesia – TVRI Kaltim kembali menggelar program Publika dengan tajuk “Tingkatkan Indeks Literasi dan Minat Baca di Kaltim” yang tayang pada Jumat (19/9/2025). 

Sesuai dengan tajuknya, bahasan utama dalam program kali ini ialah budaya membaca, literasi dan minat baca yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Kalimantan Timur.

Meskipun indeks literasi dan minat baca menunjukkan tren positif, keduanya masih harus bersaing ketat dengan derasnya arus digitalisasi serta transformasi besar yang tengah berlangsung di Bumi Etam—terutama sejak hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).

Hadir sebagai narasumber, Hana Iriana (Kabid P3KM Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim), Sudarman (Direktur Lembaga Pendidikan dan Pelatihan GPMB Kaltim), serta Muhammad Arifin (Akademisi Unmul).

Hana memaparkan, pada tahun 2024 indeks literasi masyarakat Kaltim tercatat sebesar 78,34 dari skala 100, berada di kategori “sedang” menurut data Perpustakaan Nasional RI.

Angka ini menunjukkan perkembangan, tetapi belum cukup untuk menjadikan literasi sebagai budaya yang mengakar. 

“DPK Kaltim terus berupaya menghadirkan inovasi. Salah satunya dengan layanan digital berupa e-book dan platform literasi daring. Harapannya, membaca tidak lagi dianggap sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan sehari-hari,” ungkap Hanna.

Namun, derasnya arus informasi di era digital membawa dilema.

Akses internet yang semakin meluas bisa mempercepat literasi, tetapi juga bisa menjadi distraksi besar bagi generasi muda. Konten hiburan sering kali lebih menarik dibandingkan membaca buku atau jurnal ilmiah. 

Sudarman menekankan bahwa minat baca harus ditumbuhkan bukan hanya dalam bentuk “pegang buku”, tetapi dalam makna lebih luas sebagai budaya literasi. 

“Dinas Perpustakaan sudah banyak memfasilitasi, tinggal bagaimana kita semua membiasakan membaca, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga komunitas,” jelasnya.

Sementara itu, Muhammad Arifin mengingatkan bahwa generasi muda Kaltim yang hidup di tengah perubahan global membutuhkan pondasi literasi kuat untuk bertahan.

Literasi, katanya, tidak berhenti pada membaca, tetapi juga soal kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, menyaring hoaks, dan memanfaatkan teknologi secara bijak.

“Kalau literasi kuat, SDM Kaltim siap bersaing secara global,” ujarnya.

Momentum pembangunan IKN pun disebut sebagai tantangan sekaligus peluang. Dengan literasi yang kuat, generasi muda Kaltim diharapkan mampu menjawab perubahan zaman, tidak hanya menjadi penonton, melainkan pelaku aktif pembangunan.

Pemprov Kaltim sendiri terus mendorong transformasi layanan perpustakaan agar lebih dekat dengan masyarakat, baik melalui ruang baca fisik maupun digital.

Melalui kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas literasi, hingga masyarakat luas, literasi diharapkan menjadi gerakan bersama, bukan hanya program pemerintah.

Generasi literasi yang kuat akan menjadi bekal untuk membangun SDM unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan zaman. Dengan semangat itu, Kaltim optimis mampu menyiapkan generasi muda yang cerdas, adaptif, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045.

TERPOPULER

TERKINI