Samarinda, Satu Indonesia – Status kedaruratan bencana di kota Samarinda telah resmi berakhir pada Minggu (25/5/2025). Namun meskipun begitu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Kota Samarinda saat ini mulai memasuki fase kemarau basah, yang justru menyimpan potensi bahaya bencana susulan.
Dalam keterangannya, Minggu (25/5/2025), Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi dari BMKG, tren cuaca saat ini belum sepenuhnya mengarah ke musim kering.
“Dalam sepuluh hari terakhir, curah hujan masih cukup tinggi. Potensi hujan lebat diperkirakan masih terjadi hingga Agustus. Baru Agustus hingga September kita masuk ke kemarau yang normal,” jelasnya.
Catatan BPBD menunjukkan bahwa lebih dari 40 rumah warga rusak akibat hujan ekstrem yang terjadi pada Senin (12/5/2025) lalu. Tim Joint Needs Assessment atau Jitupasna saat ini masih melakukan pendataan lanjutan terkait kerusakan dan kebutuhan pascabencana.
Suwarso menjelaskan bahwa kejadian banjir dan longsor sebelumnya terjadi akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia.
“Hujan mencapai 153 mm, ditambah pasang besar di Sungai Mahakam serta curah hujan di wilayah hulu. Belum lagi pembukaan lahan dan penebangan pohon di daerah rawa. Semua itu memperbesar risiko bencana,” jelasnya.
Ia menyayangkan masih adanya warga yang tetap tinggal di kawasan lereng dan sempadan sungai yang rawan longsor dan banjir. Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat agar tidak lagi menempati wilayah berisiko tinggi.
“Korban jiwa akibat longsor kemarin menjadi pelajaran besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kesadaran masyarakat sangat penting,” tegasnya.
BPBD telah memasang rambu-rambu peringatan di sejumlah titik rawan. Suwarso menegaskan, jika warga tetap bertahan di wilayah yang telah ditandai rawan, maka konsekuensinya bisa fatal.
“Kerugian jiwa dan harta benda menjadi taruhannya,” ujarnya memperingatkan.
Sementara itu, bantuan bagi warga terdampak mulai disalurkan secara bertahap. BPBD bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtani) serta dinas teknis lainnya, tengah menyalurkan stimulan untuk lahan pertanian yang terendam serta fasilitas umum yang rusak.
“Banyak wilayah terdampak, jadi distribusi bantuan dilakukan secara bertahap,” tutup Suwarso.

