Kamis, Juli 23, 2026
No menu items!

Keseruan Rebutan Tempe dari Tradisi Tumpeng Tempe Raksasa di Sidoarjo

Sidoarjo, Satu Indonesia – Sejak pagi, ratusan warga sudah memadati lapangan desa untuk mengikuti acara tahunan Ruwat Desa – Gerebek Gunungan Tempe, Minggu (16/2/2025). Tradisi Ruwat Desa di Desa Sedenganmijen, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur ini selalu dimeriahkan dengan pembuatan tumpeng tempe raksasa.

Tumpeng tempe raksasa ini adalah gunungan tempe yang menjulang tinggi, biasanya setinggi antara 9-12 meter. Desa Sedenganmijen, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur ini memang dikenal sebagai sentra produksi tempe.

Tradisi menarik ini diselenggarakan setiap tahun menjelang bulan suci Ramadhan, dan menjadi ajang sedekah serta sebagai bentuk rasa syukur para perajin tempe kepada Tuhan YME atas limpahan rezeki yang telah diterima selama ini.

Foto udara Tradisi Ruwat Desa Gerebek Tumpeng Tempe di Desa Sedenganmijen, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (16/2/2025) | Antara/HO

Sebelum acara puncak, sejumlah gunungan yang berbentuk lebih kecil diarak keliling desa dengan iringan musik dan tari-tarian tradisional. Gunungan-gunungan tersebut berisikan sayuran, sandal, dan ikan mentah. Hanya dalam waktu singkat, kesemuanya ludes diserbu warga yang antusias.

Selain tumpeng, panitia juga menyebarkan uang pecahan seribu rupiah yang dibagi-bagikan kepada warga. Warga pun kembali berebut ketika uang itu dibagikan. Meski ada aksi saling dorong, acara tetap berlangsung meriah dan penuh kegembiraan.

Panitia saat membagikan tempe dari Tumpeng Tempe raksasa setinggi 10 meter kepada warga yang antusias | Antara/HO

Sementara itu, Kepala Desa Sedengan Mijen, Hasanuddin mengatakan, tradisi ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2018 hingga sekarang. Menurut dia, acara ini terinspirasi dari tumpeng durian di Wonosalam, Jombang, Jawa Timur.

“Kalau mereka bisa membuat ikon dari durian, kenapa kami tidak bisa dengan tempe? Akhirnya, kami menciptakan tumpeng tempe raksasa,” ujar Hasanuddin, dilansir ngopibareng.id, Minggu (16/2/2025).

Menurutnya, tumpeng tempe raksasa merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan bahwa Desa Sedengan Mijen merupakan sentra perajin tempe.

“Pembuatan tumpeng tempe ini, para perajin menghabiskan lebih dari 700 kilogram kacang kedelai. Kedelai ini dikemas dalam plastik ukuran 20×25 cm untuk jadi tempe,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan, tempe dibuat beberapa hari sebelumnya agar dapat difermentasi dengan baik dan disusun menjadi gunungan yang kokoh. Selain tempe, berbagai gunungan lainnya juga dibuat oleh kelompok warga dari berbagai dusun.

Tahun ini, tumpeng tempe yang dibuat hanya setinggi 10 meter. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 12 meter.

“Penyesuaian ini dilakukan karena selama pandemi Covid-19, acara sempat dibatasi dan gunungan tempe hanya ditempatkan di balai desa,” tutur Hasanuddin.

Hasanuddin berharap, Tradisi Ruwat Desa dengan Tumpeng Tempe ini bisa kembali lebih besar dan menarik lebih banyak perhatian masyarakat. Serta memperkuat identitas Sedengan Mijen sebagai sentra produksi tempe.

“Kami ingin tempe dari desa kami semakin dikenal luas dan tetap menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat,” tutup Hasanuddin.

TERPOPULER

TERKINI