Rabu, Maret 11, 2026
No menu items!

Pemkot Samarinda dan FINCAPES Teliti Risiko Banjir Akibat Perubahan Iklim

Samarinda, Satu Indonesia – Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri melakukan audiensi bersama FINCAPES (Flores Impacts, Carbon Province, and Ecosystem Sustainability) pada Selasa (27/01/2026) siang di Balai Kota Samarinda.

Kunjungan rombongan FINCAPES ke kota Tepian ini memiliki agenda kick-off meeting pada Rabu (28/01/2026) pagi di Hotel Mercure Samarinda.

Mawardi Muhammad, yang mengetuai rombongan menjelaskan bahwa FINCAPES merupakan proyek kerja sama antara Pemerintah Kanada dan Pemerintah Rusia yang secara resmi diluncurkan pada perhelatan G20 di Bali pada tahun 2020.

Untuk pelaksanaan proyek di Samarinda, FINCAPES akan melakukan kajian risiko banjir akibat perubahan iklim dengan melibatkan peneliti dari Universitas Syiah Kuala, Provinsi Aceh.

Kajian tersebut mencakup berbagai skenario, mulai dari kenaikan suhu global hingga dua derajat Celsius, serta proyeksi risiko banjir dalam rentang waktu 10, 25, 50, hingga 100 tahun ke depan. Seluruh pendanaan kajian ini berasal dari Pemerintah Kanada.

“Setelah kajian pertama yang direncanakan berlangsung selama sembilan hingga sepuluh bulan, kami akan melanjutkan ke kajian kedua yang berfokus pada risiko kerugian dan kerusakan akibat banjir, termasuk kemungkinan intervensi untuk mengurangi dampaknya,” ungkap Mawardi.

Ia berharap hasil kajian tersebut dapat saling melengkapi dan memberikan manfaat nyata bagi Pemerintah Kota Samarinda serta seluruh pemangku kepentingan.

“Seluruh hasil kajian, baik berupa input maupun output, akan kami serahkan kepada Pemkot Samarinda untuk disimpan sebagai data pemerintah daerah,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada FINCAPES atas kontribusi pemikiran, tenaga, dan keilmuan dalam upaya mengurai risiko banjir di Kota Samarinda melalui pendekatan kajian ilmiah.

Ia berharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan kerja sama yang berkelanjutan dan memberikan nilai konkret bagi Kota Samarinda ditengah efisiensi anggaran, sehingga hasil akhirnya benar-benar dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah.

“Sebenarnya jika penelitian dilakukan pada musim hujan, analisisnya tentu akan lebih mudah. Namun kita juga memahami bahwa kondisi cuaca tidak bisa ditentukan,” ujar Wawali.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa penelitian yang dilakukan di luar musim hujan tetap dapat berjalan, meskipun hasilnya mungkin kurang merepresentasikan kondisi banjir secara langsung. Ia mencontohkan kondisi di Kalimantan Timur, khususnya Samarinda, di mana dalam satu bulan tanpa hujan saja suhu panas sudah sangat ekstrem hingga tanah mengalami retak.

Oleh karena itu, Wawali berharap FINCAPES dapat melakukan analisis yang lebih konkret dan terukur, seperti perhitungan rata-rata curah hujan harian dalam liter per detik, sehingga seluruh data dapat dihitung secara ilmiah dan memiliki angka yang jelas.

“Saya juga berharap tenaga ahli dan praktisi lokal yang selama ini telah bekerja dan memiliki pengalaman lapangan di daerah bisa diakomodasi. Karena sejatinya, data, kajian, dan pengalaman itu sudah ada. Tinggal bagaimana semuanya disinergikan,” pungkasnya.

TERPOPULER

TERKINI