Rabu, Maret 11, 2026
No menu items!

Jiwa yang Sehat Versi Abu Zaid Al-Balkhi

Jakarta, Satu Indonesia – Banyak orang yang tubuhnya sakit, tetapi jiwanya tetap sehat. Alkisah, ada seorang alim saleh sedang sakit. Diperkirakan dokter, penyakitnya menjadi sebab beberapa saat lagi kematian akan menjemput.

Tapi wajahnya justru nampak berseri-seri. Senyum merekah, seakan tidak ada masalah apa-apa. Saat ditanya kenapa, jawabnya ringan, saya bahagia sekali karena sebentar lagi akan bertemu dengan Sang Kekasih (Allah).

Sebaliknya, tidak sedikit manusia yang tubuhnya bugar, tetapi jiwanya rapuh. Mudah marah. Mudah tersinggung. Suka flexing harta. Ujub atas pencapaiannya, dll. Orang-orang jenis ini banyak ditemukan di sekitar kita. Padahal, tubuh dan jiwa seharusnya berjalan beriringan, saling menopang, bukan saling menjatuhkan.

Abu Zaid Al-Balkhi, seorang cendekiawan Muslim abad ke-9, sudah menyoroti hal ini dalam kitabnya “Masalih al-Abdan wa al-Anfus” (Kesehatan Tubuh dan Jiwa).

Menurutnya, kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika salah satunya terganggu, yang lain akan ikut terdampak. Karena itu, menjaga kesehatan jiwa bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Lalu, bagaimana jiwa yang sehat menurutnya? Al-Balkhi percaya bahwa jiwa yang sehat adalah jiwa yang tenang dan seimbang. Tidak mudah dihanyutkan oleh kecemasan, tidak larut dalam kesedihan, dan mampu menghadapi kesulitan hidup dengan ketahanan (adversity quotien). Bukan berarti tidak pernah merasa takut atau sedih, tetapi tahu bagaimana mengelola perasaan dengan bijak.

Al-Balkhi juga menekankan pentingnya berpikir jernih. Orang yang pikirannya dipenuhi kecemasan dan prasangka buruk akan lebih rentan terhadap gangguan jiwa. Sebaliknya, mereka yang terbiasa melihat hidup dengan tenang dan rasional akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan. Untuk itu, ia menawarkan beberapa cara menjaga kesehatan jiwa. 

Pertama, menyeimbangkan emosi. Menurutnya, gangguan jiwa muncul karena dua hal, yaitu emosi yang berlebihan atau lemahnya kendali diri. Karena itu, seseorang harus melatih diri agar tidak mudah hanyut dalam emosi negatif.

Kedua, mengelola stres dengan baik. Stres bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi secara rasional. Ia menyarankan agar seseorang mengenali sumber kecemasannya dan mencari cara untuk mengatasinya. 

Ketiga, menjaga kesehatan fisik. Jiwa dan raga itu saling berkaitan. Pola makan yang baik, tidur cukup, dan olahraga bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga membuat batin lebih tenang. Hanya saja, olah raga memang mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan secara rutin. Apalagi ada trend olah raga sambil kulineran. Jalan kaki sebentar, tetapi jajan makanan tidak sehat lebih banyak dikomsumsi.

Gagasan ini terasa begitu modern. Kita hidup di zaman serba cepat, penuh tekanan, dan sering kali mengabaikan kesehatan jiwa.

Mungkin kita perlu lebih sering mengingat nasihat Al-Balkhi, bahwa tubuh yang sehat itu harus diiringi dengan jiwa yang sehat. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Seperti pepatah lama, mens sana in corpore sano—jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat. 

Al-Balkhi sudah mengatakannya lebih dari seribu tahun lalu. Kini, giliran kita untuk menerapkannya. Tapi semua itu hanya jadi keinginan tanpa dipraktikkan. Kalau sudah tahu, kenapa mesti ditunda? Wallahu a’lam.

Sumber: Kemenag/Thobib Al Asyhar

TERPOPULER

TERKINI