Tenggarong, Satu Indonesia – Sektor pariwisata dan pelestarian budaya di Kalimantan Timur mendapat angin segar selama Libur Lebaran tahun 2025 ini. Salah satunya ialah Museum Mulawarman yang terletak di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim.
Situs wisata bersejarah di Kota Raja ini mencatat lonjakan signifikan dalam jumlah pengunjung. Daya tariknya sebagai destinasi wisata yang ikonik masih berhasil mengundang minat para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
Baru-baru ini, wisatawan asal Brunei Darussalam diketahui mengunjungi Museum Mulawarman. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia mampu menembus batas negara dan menarik perhatian internasional.
Museum Mulawarman sendiri sebenarnya merupakan bekas istana dari Kesultanan Kutai Kartanegara yang dibangun pada tahun 1936 dan diresmikan sebagai Museum Kutai pada tanggal 25 November 1971 oleh Gubernur Abdoel Wahab Sjahranie.
Hingga akhirnya pada tanggal 18 Februari 1976 tempat ini diserahterimakan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan berganti nama menjadi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur “Mulawarman”.

Kepala Tata Usaha UPTD Museum Mulawarman, Sugiyono menyampaikan bahwa wisatawan asal Brunei memberikan apresiasi tinggi terhadap keberagaman koleksi serta keramahan dan profesionalisme petugas museum.
“Mereka sangat terkesan dengan pelayanan kami dan merasa disambut hangat. Petugas kami pun siap memberikan edukasi dengan antusias kepada setiap pengunjung,” ujar Sugiyono, dikutip Minggu (6/4/2025).
Diketahui, selama masa libur Lebaran, kunjungan harian ke museum melonjak hingga 500–700 orang per hari, naik drastis dibandingkan hari biasa yang hanya berkisar 100–150 orang.
Salah satu pemicu utama tingginya antusiasme ini adalah kebijakan pembebasan biaya masuk hingga Juni mendatang, sebagai bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memperluas akses masyarakat terhadap edukasi budaya.
Kebijakan ini dinilai efektif, terutama dalam menjangkau kalangan pelajar, keluarga, hingga wisatawan luar negeri. Pemerintah daerah tak hanya memberikan akses gratis, tetapi juga memperkuat infrastruktur dan layanan di museum.
Sebagai bagian dari transformasi pelayanan publik, pengelola museum telah melakukan penataan ulang ruang pameran, menciptakan pengalaman kunjungan yang lebih nyaman dan menarik. Di beberapa titik strategis, kini tersedia kios informasi yang mempermudah pengunjung dalam memahami konteks sejarah dan nilai budaya dari koleksi yang dipamerkan.
Sugiyono menambahkan, pihaknya akan terus mendorong inovasi dan kualitas layanan agar Museum Mulawarman menjadi tempat belajar yang menyenangkan sekaligus inspiratif.
“Kami ingin pengunjung merasa puas dan membawa pulang pengalaman bermakna. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya bangsa,” imbuhnya.
Dengan lebih dari 5.000 koleksi, mulai dari artefak arkeologi, etnografi, hingga seni dan sejarah lokal, Museum Mulawarman menjadi etalase penting bagi kekayaan budaya Kalimantan. Koleksi unggulan seperti singgasana kerajaan, patung Lembuswana, senjata Suku Dayak, dan keramik Dinasti Cina menjadi daya tarik utama bagi pengunjung.
Sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam menghadirkan layanan publik berbasis teknologi, Museum Mulawarman juga meluncurkan aplikasi dan situs web resmi, yang memungkinkan pengunjung mengakses informasi, merencanakan kunjungan, hingga mengikuti agenda pameran secara digital. Inovasi digital ini menjadi langkah maju dalam memperluas jangkauan museum secara nasional dan global.

