Senin, April 27, 2026
No menu items!

Renovasi Masjid Raya Darussalam Rampung, Syiar Islam Samarinda Makin Kokoh

Samarinda, Satu Indonesia – Wali Kota Samarinda, Andi Harun secara resmi meresmikan renovasi Masjid Raya Darussalam Samarinda pada Jum’at (13/02/2026).

Peresmian tersebut dilaksanakan usai kegiatan Sholat Jum’at berjamaah, dengan dihadiri banyak tokoh, seperti Wakil Wali Kota Saefuddin Zuhri, para Asisten, seluruh Kepala Perangkat Daerah, Direktur Utama BUMD, Kabag Kesra, Kepala Kementerian Agama, Ketua TWAP, Camat Samarinda Kota, serta lurah setempat.

Dalam sambutannya, Wali Kota Andi Harun menegaskan bahwa keberadaan Masjid Raya Darussalam merupakan bagian penting dari sejarah panjang Kota Samarinda yang lahir dari proses sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual masyarakatnya.

“Keberadaan Masjid Raya Darussalam Samarinda adalah sejarah penting yang hadir dari proses panjang yang melibatkan dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan rohani masyarakatnya sehingga kini berdiri megah di tengah Kota Samarinda,” ujarnya.

Wali Kota memaparkan, masjid ini awalnya bernama Masjid Jami’ yang mulai dibangun pada tahun 1920 dengan luas 25×25 meter persegi. Bangunan tersebut awalnaya berbahan kayu ulin dan beratap sirap ulin, tanpa halaman, dengan posisi serambi kanan di pinggir jalan dan serambi kiri menghadap Sungai Mahakam.

Dok. Pemkot Samarinda

Renovasi pertama dilakukan pada periode 1952–1955 oleh para tokoh terdahulu seperti almarhum Datuk Madjo Oerang, almarhum APT Pranoto, dan almarhum KH Abdullah Marisi, karena kapasitas Masjid Jami’ tidak lagi mampu menampung jamaah, khususnya saat Shalat Jumat.

Di bawah arahan APT Pranoto, dibentuk panitia pembangunan masjid dengan desain dari arsitek Dinas PU Kalimantan Timur, Van Der Vyl. Pada 9 November 1953, AM Parikesit selaku Kepala Daerah Istimewa Kutai meletakkan batu pertama pembangunan dengan biaya Rp2.500.000.

Secara arsitektur, Masjid Raya Darussalam mengusung gaya Timur Tengah dan berdiri di tengah pusat aktivitas ekonomi Kota Samarinda.

Lokasinya yang berada di kawasan strategis seperti Pelabuhan, Citra Niaga, dan Pasar Pagi sempat menuai komentar negatif terkait kekhusyukan ibadah. Namun seiring waktu, justru letak tersebut menghadirkan hikmah besar bagi syiar Islam.

“Di tengah kesibukan umat mencari rezeki, Masjid Raya mampu menjadi oase penghilang dahaga umat Islam di tengah padang kehidupan yang serba duniawi,” ungkapnya.

Lebih lanjut Wali Kota menyampaikan, Pemerintah Kota Samarinda berkomitmen mewujudkan rumah ibadah yang nyaman, indah, dan fungsional di atas lahan seluas 15.000 meter persegi. Renovasi Tahap II yang telah rampung mencakup pekerjaan menyeluruh dengan material berkualitas dan teknologi modern, sebagai wujud cinta terhadap masjid sebagai jantung umat.

Masjid kini dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, mulai dari sistem pengeras suara berkualitas hingga partisi wudhu praktis seluas 10,56 meter persegi.

Menurut Wali Kota, pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan bentuk gotong royong antara pemerintah daerah, masyarakat, dan para donatur.

“Masjid ini bukan hanya bangunan fisik, melainkan mercusuar spiritual yang menyatukan hati umat dalam shalat berjamaah, kajian ilmu, dan kegiatan sosial,” tegasnya.

Ia juga mengutip QS. An-Nur ayat 36–37 sebagai pengingat bahwa masjid dibangun untuk mengingat nama Allah SWT. Renovasi ini diharapkan menjadikan Masjid Raya Darussalam sebagai ikon keimanan, persatuan, dan peradaban umat Islam, sekaligus mendukung visi Samarinda sebagai kota yang harmonis, berkelanjutan, dan inklusif.

Mengakhiri sambutannya, Wali Kota secara resmi menyatakan rampungnya renovasi Masjid Raya Darussalam dengan ucapan syukur.

“Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbilalamin, akhirnya renovasi tahap ini telah rampung sempurna, membuka pintu bagi generasi mendatang untuk beribadah dalam khusyuk penuh,” tutup Andi Harun.

TERPOPULER

TERKINI