Selasa, April 21, 2026
No menu items!

Adaptasi Arsitektur Lokal: SMAN 4 Diusulkan Berkonsep Rumah Panggung

Samarinda, Satu Indonesia – Komisi IV DPRD Provinsi Kaltim mendorong pergeseran paradigma pembangunan di Kota Samarinda. Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi menyampaikan usulan terkait konstruksi baru SMA Negeri 4 Samarinda di Rapak Dalam, Kecamatan Loa Janan Ilir yang dimulai pada tahun 2026 mendatang.

Darlis menyebutkan bahwa bangunan sekolah tersebut akan mengadaptasi rumah panggung dikarenakan berada di kawasan yang masih rawan banjir.

Sebagaimana diketahui, kondisi geografis dan hidrologis kawasan Rapak Dalam memang kerap terendam banjir. Konsep rumah panggung ini juga dinilai sebagai salah satu upaya pelestarian kearifan lokal masyarakat Samarinda.

Sebagai seorang alumni, ketua komite sekolah, dan masyarakat sekitar, ia menilai kondisi SMAN 4 Samarinda saat ini sudah sangat tidak layak dan membutuhkan perhatian total pemerintah provinsi.

Dijelaskannya, pertambahan jumlah penduduk  memperparah intensitas banjir di kawasan tersebut. Maka, pembangunan ulang menjadi satu-satunya solusi.

Namun demikian, Darlis menegaskan agar pembangunannya tidak dilakukan dengan cara menimbun lahan, melainkan menggunakan konsep bangunan panggung.

Bangunan panggung permanen dengan tiang-tiang tinggi dinilai akan memungkinkan air tetap mengalir di bawah bangunan tanpa mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Darlis berharap konsep ini tak hanya menyelamatkan sekolah dari ancaman banjir, tetapi juga akan menjaga ekosistem air di kawasan itu.

“Saya sudah komunikasikan dengan Dinas Pendidikan. Saya ajak diskusi khusus agar nantinya bangunan itu tidak seperti bangunan konvensional yang menimbun tanah. Kalau ditimbun saja, air tetap akan terhambat dan memperparah banjir. Ini soal mindset. Kita harus kembali ke nilai-nilai lokal. Saya harap fungsi kesmen area (daerah resapan air) di SMAN 4 tetap ada,” jelasnya.

Menurutnya, sistem bangunan panggung telah lama digunakan oleh masyarakat lokal di Kota Samarinda khususnya, Kaltim pada umumnya, sebagai respons terhadap alam.

“Rumah Banjar dulu itu kan panggung semua. Tidak ada rumah di rawa dibangun langsung di atas tanah. Kearifan lokal ini harus dihidupkan kembali,” katanya.

Lebih jauh, Darlis juga menegaskan bahwa pembangunan SMAN 4 dengan konsep dan sistem panggung bisa menjadi prototype sekolah ramah hidrologi di Samarinda.

Ia berharap pendekatan ini jadi contoh pembangunan yang tetap ramah lingkungan dan tangguh menghadapi banjir.

“Kita harus ubah cara berpikir membangun di Samarinda. Jangan lagi semuanya ditimbun. Mending kita keluarkan sedikit biaya lebih untuk bangun panggung, daripada sering kebanjiran dan akhirnya bangunan rusak. Kalau kita hitung-hitung, justru lebih hemat dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Pola pembangunan seperti ini tidak hanya menjawab tantangan lingkungan, tetapi juga sejalan dengan semangat pelestarian budaya.

Jika terealisasi, SMAN 4 akan menjadi sekolah negeri pertama di Samarinda yang dibangun dengan konsep panggung modern, menandai langkah awal menuju tata ruang kota yang lebih berkelanjutan, adaptif, dan berakar pada budaya lokal.

TERPOPULER

TERKINI