Senin, April 20, 2026
No menu items!

Banjir Surut, Ular Pun Bermunculan di Pemukiman Warga Samarinda

Samarinda, Satu Indonesia – Bencana banjir yang sempat menggenangi banyak kawasan di kota Samarinda akhirnya mereda. Namun, di balik rasa lega, warga kini dihadapkan pada persoalan baru yang tak kalah mengejutkan—ular-ular liar mulai menyusup ke dalam rumah mereka.

Ketika air perlahan menyusut, banyak satwa yang sebelumnya berdiam di habitat alaminya kini harus mencari tempat berlindung.

Rumah warga yang kering dan penuh celah menjadi pilihan baru bagi reptil-reptil ini. Tak sedikit warga yang dikejutkan dengan kehadiran ular di dalam rumah, bahkan di sudut-sudut yang tidak terduga.

Dalam keterangannya, Rabu (28/5/2025) lalu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Samarinda, Hendra AH, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari warga terkait temuan ular yang muncul di berbagai titik permukiman. 

Salah satu laporan yang paling menggegerkan ialah berasal dari kawasan Jalan Selamet Riyadi. 

“Di banjir kemarin ya, temuan terbesar di Jalan Selamet Riyadi itu ular sawah, jenis piton atau sanca. Panjangnya itu sekitar 6 meter, besar sekali,” ungkap Hendra.

Menurut Hendra, kemunculan ular-ular ini diduga akibat terganggunya habitat alami mereka, terutama saat musim penghujan dan banjir seperti sekarang. 

Genangan air yang meluas hingga ke badan jalan dan lahan memaksa satwa liar seperti ular mencari tempat lebih tinggi untuk berlindung. 

“Dalam kondisi banjir ini, mungkin ular tersebut, entah itu ular peliharaan warga yang lepas atau ular-ular liar itu yang ada di banjir, saat ini kan pasti mencari daerah tertinggi atau tempat yang tinggi dari habitatnya. Jadi memungkinkan jika ular-ular ini menuju rumah untuk berlindung dari banjir,” jelasnya.

Sedikitnya 4 ekor ular telah berhasil dievakuasi oleh Damkarmat Samarinda dari permukiman warga. Proses evakuasi hewan melata tersebut juga dibantu dengan para relawan. 

Sementara beberapa ekor ular lainnya berhasil ditangkap secara mandiri oleh warga. Seperti yang terjadi di kawasan Mangkupalas, Samarinda Seberang, di mana warga dengan berani menangkap seekor piton dan mengikat mulutnya menggunakan lakban. 

“Laporan masyarakat yang agak besar-besar ularnya sekitar empat, adapula yang kecil-kecil. Ya, kendala kami, karena ular ini ukurannya cukup besar. Biasa kami tangani ular-ular kecil saja. Karena ular yang cukup besar itu tenaganya kuat. Kami sampai menurunkan dua regu dalam menanganinya,” ujarnya lagi.

Menyikapi kejadian ini, Hendra mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama di wilayah padat penduduk dan lokasi yang banyak anak-anak bermain. 

Sebagaimana diketahui, sebenarnya ular hanya mencari tempat berlindung, bukan untuk menyerang manusia. Jika menemukannya, cukup melapor kepada petugas untuk menanganinya. Begitupun jika melihat satwa liar lain yang berpotensi membahayakan. 

“Makanya diperlukan kehati-hatian dan kewaspadaan masyarakat untuk masalah ular liar. Dan jika melihat pergerakannya, segera laporan kepada kami, telepon call center kami yang tertera,” pungkasnya.

TERPOPULER

TERKINI