Senin, Mei 4, 2026
No menu items!

Penurunan Serentak Ekspor Kaltim: Sinyal Krisis di Semua Sektor, Pertanian Paling Terpukul

Samarinda, Satu Indonesia – Meskipun ekspor nonmigas ke 13 negara tujuan mengalami sedikit peningkatan, tren keseluruhan ekspor Kaltim pada Maret 2025 justru menunjukkan penurunan di semua sektor.

Baik migas maupun nonmigas mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Data terbaru mengungkapkan bahwa sektor industri mengalami penurunan paling signifikan, dengan nilai ekspor hasil industri merosot tajam hingga 8,07 persen.

“Tak hanya itu, ekspor hasil pertanian juga mengalami penurunan signifikan sebesar 7,59 persen, sementara ekspor hasil pertambangan tercatat turun tipis sebesar 0,25 persen,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana.

Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terlihat jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, atau year on year (yoy). Lagi-lagi, semua sektor ekspor Kaltim menunjukkan tren penurunan.

Sektor pertanian menjadi yang paling terpukul dengan penurunan nilai ekspor yang mencengangkan, mencapai 57,73 persen.

Sementara itu, ekspor hasil tambang dan hasil industri juga mengalami penurunan yang cukup dalam, masing-masing sebesar 29,17 persen dan 6,70 persen.

Merosotnya seluruh sektor secara bersamaan menjadi tantangan serius bagi perekonomian Kaltim, yang selama ini sangat bergantung pada industri berbasis sumber daya alam.

“Meskipun mengalami penurunan, komoditas hasil tambang masih memegang peranan sentral dalam struktur ekspor Kaltim selama periode Januari hingga Maret 2025. Sektor ini menyumbang hingga 70,30 persen dari total nilai ekspor Kaltim,” ungkap Yusniar.

Di posisi kedua, sektor industri mencatatkan peranan sebesar 19,13 persen terhadap total ekspor. Sementara itu, sektor migas berada di urutan ketiga dengan kontribusi sebesar 10,49 persen.

Meskipun sektor pertambangan masih dominan, penurunan yang signifikan secara tahunan mengindikasikan perlunya upaya diversifikasi ekspor yang lebih agresif.

Ketergantungan yang terlalu tinggi pada satu sektor rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global dan perubahan kebijakan di negara-negara tujuan ekspor.

TERPOPULER

TERKINI