Samarinda, Satu Indonesia – Menjelang ramadhan 2025, sejumlah harga bahan pokok terpantau mengalami kenaikan.
Kenaikan ini diungkapkan oleh salah seorang pedagang di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) pada Minggu (16/2/2025).
Menurut Desta, salah seorang pedagang sembako yang sudah beberapa tahun berjualan di Pasar Rahmat Samarinda, bahan-bahan pangan seperti minyak goreng, bawang merah dan putih, santan, dan tepung mengalami kenaikan harga. Minyak goreng merek Mitra misalnya, mengalami kenaikan harga dari Rp36ribu menjadi Rp40rb. Santan instan merk Sasa berukuran kecil, yang semula Rp3000 menjadi Rp5000.
Sementara Esa, pedagang lain juga menyebutkan bahwa harga Minyakita dan minyak-minyak merek lain memang mengalami kenaikan, disusul dengan harga gula pasir. Minyakita yang sebelumnya berharga 35rb kini menjadi 36rb, namun minat beli masyarakat di pasar Rahmat bisa dikatakan masih cukup tinggi.
Bahan pangan lainnya yang terpantau yaitu telur ayam dan mie instan, dengan kisaran harga masih tetap. Namun biasanya semakin dekat dengan Ramadan maka harga kedua bahan pangan tersebut akan semakin tinggi.
Padahal sebelumnya Pemerintah Kota Samarinda pun telah menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Rutin Mingguan bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada Senin (10/02/2025) lalu di Ruang Sembuyutan, Lantai III Balai Kota.
Rapat ini dipimpin oleh Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan serta dihadiri oleh berbagai instansi terkait, seperti Bagian Ekonomi, Dandim 0901, Dinas Perikanan, Polresta Samarinda, Diskominfo, Badan Pusat Statistik (BPS), Bulog, Inspektorat, BPKAD, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtani), Dinas Perdagangan, serta Dinas Kesehatan.
Rapat ini merupakan langkah antisipatif pemerintah dalam menghadapi potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis yang kerap mengalami lonjakan menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Empat komoditas yang menjadi perhatian utama adalah minyak goreng, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam rapat menyoroti pergerakan harga bahan pokok yang perlu diwaspadai.
“Minyak goreng, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih menjadi komoditas yang patut kita pantau. Namun, perkembangan tahun ini tampaknya sedikit berbeda, sebagaimana tercermin dalam Indeks Perkembangan Harga (IPH),” ujarnya dalam keterangannya, dikutip Minggu (16/2/2025).
Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada awal Ramadan Maret 2024 tercatat sebesar 0,41%. Namun, setelah Lebaran, tekanan inflasi mulai berkurang. Fenomena ini hampir selalu terjadi setiap tahun, di mana harga pangan naik menjelang dan selama Ramadan, lalu berangsur stabil pasca-Lebaran.
Kenaikan harga umumnya disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat terhadap bahan makanan menjelang Ramadan. Konsumsi rumah tangga cenderung meningkat selama bulan puasa, sehingga harga bahan pokok ikut terdorong naik. Sementara itu, pada momen Lebaran, tekanan inflasi lebih banyak bergeser ke sektor lain, terutama transportasi, seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat yang melakukan perjalanan mudik.
MINYAKITA

Salah satu komoditas yang paling disorot dalam rapat ini adalah minyak goreng. Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat, terutama saat Ramadan dan Idulfitri.
Minyak goreng merek Minyakita menjadi perhatian serius mengingat minyak ini merupakan minyak goreng kemasan sederhana untuk rakyat. Minyak tersebut merupakan merek dagang yang dimiliki Kementerian Perdagangan dan sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM.
Kenaikan harga Minyakita sejak Juni 2024 adalah sebesar 7,41% dan terus berlanjut tanpa tanda-tanda penurunan.
Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) per 7 Februari 2025, harga rata-rata nasional Minyakita telah mencapai Rp 17.400 per liter.
Kenaikan harga Minyakita ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global, biaya distribusi, serta kebijakan ekspor-impor. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah strategis guna menstabilkan harga minyak goreng di pasaran.
Pemerintah Kota Samarinda berencana memperkuat pengawasan distribusi, memastikan ketersediaan stok pangan, dan mengadakan operasi pasar untuk menjaga kestabilan harga.
Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Kota Samarinda berharap semua pihak dapat bekerja sama dalam mengendalikan inflasi serta menjaga daya beli masyarakat menjelang momen penting keagamaan ini. Upaya strategis seperti operasi pasar, pemantauan distribusi, dan kerja sama dengan pelaku usaha diharapkan mampu meredam lonjakan harga serta memberikan kepastian ekonomi bagi masyarakat.

