Yogjakarta, Satu Indonesia – Miftah Maulana Habiburrohman atau akrab disapa Gus Miftah merupakan seorang mubalig dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogjakarta.
Dirinya pernah berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tetapi tidak selesai. Sewaktu kuliah, ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.
Sosok pria kelahiran Lampung Timur ini mulai dikenal ketika videonya viral saat memberikan pengajian ke kaum marjinal di salah satu kelab malam di Bali pada 2018 lalu.
Miftah mengaku ide awal ia berdakwah ke kaum marjinal, ketika dirinya melaksanakan salat di musholla sekitar Pasar Kembang, area lokalisasi di Yogyakarta.
Di area lokalisasi tersebut, ia mulai rutin mengadakan kajian agama yang diikuti para pekerja dunia malam. Selanjutnya, ia juga berdakwah ke kelab malam dan juga salon plus-plus.
Menurutnya, para pekerja dunia malam kesulitan mendapat akses ilmu keagamaan. Ketika hendak mengaji di luar, mereka justru menjadi bahan pergunjingan. Sebaliknya di tempat kerjanya tidak ada kajian agama yang bisa didapatkan.
Atas sepak terjangnya berdakwah ke kaum marjinal tersebut, anak dari M. Murodhi bin M Boniran yang merupakan keturunan Kiai Muhammad Ageng Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo ini mendapat dukungan dari habib Luthfi bin Yahya asal Pekalongan.
Pada Pilpres 2029, Gus Miftah masih Bersikap Netral
Menjelang Pilpres 2019 lalu, Gus Miftah kala itu berpesan kepada seluruh rakyat Indonesia agar mengutamakan kerukunan antar manusia. Ia menyatakan bahwa kepentingan oknum dalam Pilpres justru mengkoyak persatuan dan kesatuan bangsa.
Pasalnya, situasi Pilpres memanas dengan jargon Ganti Presiden 2019 yang digagas oleh kubu Prabowo Subianto. Sementara simpatisan Jokowi lantas tak mau kalah dengan kelompok Ganti Presiden 2019, mereka pun membuat slogan tandingan 2019 Tetap Jokowi.
Atas sikap kedua belah pihak yang saling memaksakan kehendak masing-masing tersebut, menurut penilaian Gus yang kerap berpenampilan nyentrik dengan kacamata hitam ini merupakan sesuatu yang aneh.
Mendapat Peran sebagai Ustadz dalam Film Mengejar Surga
Ciri khas berdakwahnya yang nyentrik, mulanya dinilai kontroversi tersebut membuat pamor Gus Miftah kian menanjak. Pada 2022 lalu, ia bahkan mendapat peran dalam film Islam drama religi Mengejar Surga yang disutradarai oleh Bambang Drias, serta dibintangi oleh Jessica Mila dan Al Ghazali.
Dalam film produksi Viera Film, dirinya mendapat peran sebagai ustadz. Film ini mengisahkan seorang wanita bernama Atikah, yang tumbuh dan besar tanpa kehadiran sosok seorang ayah.
Gus Miftah Dituding Toyor Kepala Istri
Video Gus Miftah diduga menoyor kepala istrinya viral di media sosial video. Dalam video tersebut terlihat Gus Miftah menggoyang-goyangkan kepala istrinya saat menyaksikan konser Denny Caknan.
Aksinya lantas menuai kecaman dari netizen yang menuding Gus Miftah menoyor kepala sang istri.
Menanggapi video viral tersebut, ia mengaku hanya bercanda saat menggoyang-goyangkan kepala sang istri.
Kontroversi Gus Miftah terhadap Pedagang Es Teh
Saat tablig akbar di Lapangan drh. Soepardi, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah (Jateng) pada Rabu (20/11/2024) lalu, Gus Miftah melontarkan kelakar berisi umpatan yang dinilai merendahkan martabat manusia.
“És téhmu jik okéh ra?” (es teh mu masih banyak, tidak?), ketika pedagang itu mengangguk, ia menjawab, “Masih? Ya kana didol, goblok!” (Masih? Ya jual sana, bego!).
Viralnya video tersebut sontak membuat Presiden Prabowo menegur dirinya. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengungkapkan bahwa teguran tersebut disampaikan Presiden melalui Seskab Mayor Teddy.
Usai ditegur, pada hari yang sama Gus Miftah lantas mendatangi kediaman pedagang es teh, Sunhaji, di Magelang untuk meminta maaf. Namun, aksinya mendatangi Sunhaji malahan membuat polemik ini menjadi memuncak.
Pasalnya, dukungan dari berbagai pihak kepada Sunhaji, membuatnya mendapatkan donasi dari berbagai pihak sampai 300 juta rupiah dan polemik ini semakin ramai walaupun Gus Miftah berjanji akan memberangkatkan Umroh Sunhaji beserta keluarganya dan bahkan Sunhaji telah diangkat menjadi anggota Banser saat bertandang ke Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogjakarta.
Video Gus Miftah yang tampak tertawa terbahak-bahak bersama tokoh ulama dari Magelang tersebut turut disoroti dari luar Negara Indonesia.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim turut menyoroti saat saat memberikan pidato dalam acara Majelis Warga Kementerian Keuangan bersama Perdana Menteri dan Menteri Keuangan yang diikuti secara daring di Kuala Lumpur pada Jum’at (6/12/2024).
Anwar menyebut keresahannya terhadap kasus tersebut, ”Di Indonesia beberapa hari ini riuh rendah dalam media sosial, seorang kyai, gus, dalam dakwahnya menghina seorang penjual teh. Oh ada yang nonton ya? Saya, teman-teman di Indonesia ada yang kirim, dan jadi viral,” ujar Anwar, dilihat dari Facebook Kementerian Keuangan Malaysia, dikutip Sabtu (7/12/2024).
Setelah menonton video viral tersebut, membuat Anwar sangat merasa aneh.
”Ini satu contoh bahwa pengangkuhan, sombong, itu kadang-kadang bukan saja di kalangan orang-orang yang tak tahu agama, (tetapi juga) orang yang paham agama yang bicara tentang Islam, akidah, dan, salat dan sunat,” tambahnya.
Gus Miftah Akhirnya Mengundurkan diri sebagai Staf Khusus Presiden
Gus Miftah akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.

Sikap itu disampaikan Gus Miftah dalam jumpa pers di Pondok Pesantren Ora Aji, Kalasan, Sleman, pada Jum’at (6/12/2024).
“Saya ingin sampaikan sebuah keputusan yang telah saya renungkan dengan sangat mendalam. Setelah berdoa bermuhasabah dan istikharah saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tugas saya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan,” Kata Miftah di Sleman, dilihat dari video yang beredar luas di media sosial, dikutip Sabtu (7/12/2024).
Dalam momen tersebut, Gus Miftah blak-blakan soal belum terima gaji hingga janji selektif memilih diksi saat berdakwah.
Miftah mengaku keputusannya mundur dari posisi tersebut diambil tanpa tekanan pihak manapun. Miftah juga mengatakan keputusannya itu bukan permintaan siapapun.
“Keputusan ini saya ambil bukan karena ditekan siapapun, bukan permintaan siapapun tapi semata mata keputusan ini saya ambil karena rasa cinta, hormat dan cinta mendalam pada Presiden Prabowo,” ucapnya.
Miftah pun menangis saat mengumumkan pengunduran diri dari jabatan utusan khusus presiden. Miftah mengaku menangis karena tidak bisa memenuhi ekspektasi Presiden Prabowo Subianto.
“Yang membuat saya terharu bukan saya kehilangan jabatan. Bahwa kepercayaan Pak Prabowo kepada saya sangat besar, sangat besar, yang notabenenya saya latar belakang anak jalanan, yang bergaul dengan dunia premanisme, lokalisasi dan klub malam bahkan,” ungkapnya.
Miftah mengaku terharu dengan kebesaran hati Presiden Prabowo yang memberinya kesempatan menjabat.
“Yang membuat saya terharu adalah betapa besarnya hati dan jiwa beliau memberikan kesempatan kepada saya,” sebutnya.
Miftah kemudian mengungkapkan alasannya sampai menangis dalam pengumuman tersebut. Dia mengaku sedih karena tidak bisa memenuhi ekspektasi Prabowo.
“Dan yang membuat saya meneteskan air mata adalah saya belum bisa menjadi apa yang menjadi ekspektasinya Bapak Prabowo,” ucapnya.
Gus Miftah pun mengaku sudah menyampaikan ini kepada Seskab Mayor Teddy. Gus Miftah menyebut Mayor Teddy tidak dalam rangka menyuruh atau menolak.
“Saya belum berkomunikasi dengan beliau (Presiden Prabowo), karena sekali lagi saya sampaikan tidak ada tekanan dari siapa pun, tidak ada permintaan dari siapa pun, tapi saya sudah berkomunikasi dengan Pak Seskab,” katanya.
Dia menyebut Mayor Teddy menyerahkan segala keputusan kepadanya. “Pak Seskab hanya menjawab ‘keputusan ada di Gus, kembali ke keyakinan dan hati nurani Gus Miftah’, beliau tidak dalam rangka menyuruh atau menolak, semalam itu, semalam,” ucapnya.
Kemudian, Gus Miftah bercerita sebetulnya sudah ada pertanda dirinya akan meninggalkan jabatan utusan khusus Presiden. Dia menyebut pertanda itu datang dari istrinya.
“Tapi, kalau saya boleh cerita, tanggal 16 November istri saya sudah menyampaikan ke saya, ‘Bah, saya sebenarnya nggak nyaman jadi istri Abah sebagai seorang pejabat, saya lebih nyaman menjadi istri seorang Gus Miftah yang saya kenal’. Entah ini sebagai sebuah firasat atau apa, itu sudah istri saya sampaikan pada 16 November, ketika saya berada di Bali, beliau telepon saya. Mungkin ini jawaban dari itu semua,” tandasnya.
Redaksi

