Sidoarjo, Satu Indonesia – Sebanyak sebanyak 566 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam Sidoarjo mengalami dugaan keracunan karena Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Talang Angin, Sidoarjo.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 88 santri masih menjalani perawatan medis di sejumlah rumah sakit di wilayah setempat pada Selasa (1/9/2026).
Informasi ini diungkapkan Bupati Sidoarjo Subandi usai mengunjungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur pada Rabu (2/8/2026),
“Tersisa 88 orang yang masih di rawat di sejumlah rumah sakit di Sidoarjo sejak Selasa (1/9). Jadi total korban dari pihak ponpes sebanyak 566 santri, sisanya sebanyak 478 santri sudah kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya, dilansir dari Antara, Kamis (3/8/2026).
Menurut Subandi, kondisi mayoritas santri yang masih dalam penanganan medis saat ini dalam kondisi yang relatif stabil.
Dirinya menegaskan bahwa sejak terjadinya kejadian tersebut, seluruh santri korban keracunan telah ditangani dengan baik oleh pihak rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta di wilayah setempat.
SPPG Kali Tengah yang melayani Ponpes Manba’ul Hikam dan sejumlah lembaga pendidikan lain, dinyatakan telah mengantongi izin. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo menemukan bahwa terdapat 31 SPPG di wilayah Sidoarjo yang belum memiliki izin.
“Total SPPG yang beroperasi di Sidoarjo sebanyak 170, 31 di antaranya belum mengantongi izin. Temuan ini sudah kami laporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN) agar ditindaklanjuti sehingga kejadian serupa tidak terulang dan tidak mengganggu program prioritas pemerintah yang baik,” terang Subandi.
Sementara itu, Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BGN Sudaryono terkait kejadian tersebut.
Ia menyatakan, pihak BGN telah menerbitkan surat penghentian sementara (suspend) operasional di SPPG terkait sejak hari ini Rabu (2/9) untuk pelaksanaan investigasi terkait kejadian tersebut.
“Akan ada investigasi dari BGN pusat apakah akan ada suspend ringan atau berat terkait operasional SPPG tersebut,” tegas Teguh.
Teguh juga menegaskan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium terkait makanan yang disajikan, yang mana hasilnya diperkirakan akan selesai dalam waktu paling cepat satu minggu.
Redaksi

