Kamis, Juli 16, 2026
No menu items!

Hadapi Musim Kemarau, DLH Pastikan TPA Manggar Aman dari Kebakaran Berkat Pengelolaan Gas Metana

Satu Indonesia, Balikpapan – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan memastikan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar berada dalam kondisi aman dari ancaman kebakaran meski musim kemarau mulai berlangsung. Sistem pengelolaan sampah berbasis sanitary landfill serta pemanfaatan gas metana menjadi faktor utama dalam menekan risiko terjadinya kebakaran di kawasan tersebut.

Kepala DLH Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan pihaknya telah meningkatkan langkah mitigasi menyusul arahan pemerintah pusat agar seluruh daerah mengantisipasi potensi kebakaran di tempat pemrosesan akhir sampah. Langkah itu dilakukan setelah sejumlah TPA di berbagai wilayah mengalami kebakaran akibat cuaca panas dan kondisi ekstrem.

“Beberapa hari terakhir cuaca cukup panas. Kami juga mengantisipasi dampak musim kemarau dan potensi El Nino. Pemerintah meminta seluruh daerah melakukan mitigasi agar kebakaran di TPA tidak terjadi,” kata Sudirman, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, akumulasi gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah menjadi salah satu penyebab utama kebakaran di TPA. Ketika suhu udara meningkat, gas tersebut berpotensi memicu munculnya titik api apabila tidak dikelola secara optimal.

Namun, kondisi tersebut tidak terjadi di TPA Manggar. Sudirman menjelaskan, Balikpapan telah menerapkan sistem sanitary landfill yang mengharuskan timbunan sampah ditutup dengan lapisan tanah. Sistem ini mampu mengurangi penumpukan gas metana sekaligus menekan risiko kebakaran.

Selain itu, gas metana yang dihasilkan tidak dibiarkan terlepas ke udara, tetapi dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi masyarakat di sekitar TPA. Saat ini, gas tersebut telah disalurkan kepada sekitar 380 rumah tangga, sedangkan kelebihan gas dibakar menggunakan flare untuk menjaga tekanan tetap stabil.

“Gas metana menjadi salah satu penyebab utama kebakaran. Alhamdulillah di Balikpapan gas itu sudah kita manfaatkan dan disalurkan ke sekitar 380 rumah tangga, sementara sisanya dibakar melalui flare sehingga tidak menumpuk,” ujar Sudirman.

DLH juga memasang sejumlah flare sebagai bagian dari sistem pengendalian gas metana. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai efektif mencegah akumulasi gas yang berpotensi memicu kebakaran.

Sudirman menjelaskan, penerapan sanitary landfill menjadi pembeda utama antara TPA Manggar dan sejumlah TPA lain yang masih menggunakan sistem open dumping. Pada sistem tersebut, sampah hanya ditumpuk tanpa penutupan tanah sehingga gas metana lebih mudah terkumpul dan meningkatkan risiko kebakaran.

“Kalau di beberapa daerah masih menggunakan sistem open dumping, sampah hanya ditumpuk begitu saja sehingga gas metana mudah terkumpul dan ketika suhu meningkat berpotensi memicu kebakaran. Di Balikpapan sistemnya berbeda karena sampah dilapisi tanah,” jelasnya.

Selain pengelolaan sampah, DLH juga memperkuat kesiapsiagaan petugas menghadapi kondisi darurat. Sekitar 40 petugas yang bertugas di TPA Manggar telah dibekali pelatihan penanganan awal kebakaran, didukung ketersediaan sumber air dan peralatan pemadaman yang siap digunakan sewaktu-waktu.

“Seluruh petugas sudah mendapat pelatihan. Jika ada kejadian, mereka langsung melakukan penanganan awal sambil berkoordinasi dengan BPBD. Kami juga memastikan sumber air selalu tersedia untuk kebutuhan pemadaman,” kata Sudirman.

Meski Balikpapan tercatat hampir dua pekan tidak diguyur hujan, Sudirman memastikan kondisi TPA Manggar masih terkendali. Ia juga mengimbau seluruh petugas maupun masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran di sekitar kawasan TPA guna mencegah terjadinya kebakaran.

“Kami terus melakukan pemantauan. Selama sistem pengelolaan gas metana berjalan baik, penerapan sanitary landfill tetap konsisten, serta kewaspadaan petugas dijaga, kami optimistis TPA Manggar tetap aman selama musim kemarau,” pungkasnya.

TERPOPULER

TERKINI