Senin, Juni 22, 2026
No menu items!

Waspada Dampak Cuaca terhadap Produksi Pangan, Kementan Dorong Percepatan Tanam

Jakarta, Satu Indonesia – Kementerian Pertanian (Kementan) RI menyoroti potensi gangguan terhadap produksi pangan nasional akibat kondisi cuaca yang terjadi pada periode Juni hingga Juli 2026.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI, Senin (22/06/2026).

Dalam kesempatan itu, Kementan mengingatkan bahwa meskipun secara kalender sudah memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Indonesia masih mengalami curah hujan yang cukup tinggi. Kondisi yang tidak sepenuhnya stabil tersebut dinilai dapat memengaruhi pola tanam dan siklus produksi pertanian di lapangan.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan RI, Muhammad Agung Sunusi, menegaskan pemerintah daerah perlu lebih aktif dalam mengantisipasi perubahan kondisi iklim tersebut. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah penguatan sistem irigasi serta pemetaan wilayah tanam secara lebih detail dan terukur.

“Mohon untuk mengoptimalkan penggunaan irigasi perpompaan, perpipaan, serta percepatan tanam pada lahan yang siap,” ujar Agung Sunusi.

Agung juga menjelaskan bahwa optimalisasi infrastruktur air menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

“Rehabilitasi jaringan irigasi, embung, sumur, serta sumber air alternatif lainnya perlu segera dilakukan terutama di wilayah yang rentan terdampak kekeringan,” katanya.

Dok. Kementan RI

Selain itu, Kementan juga menekankan pentingnya penyesuaian pola tanam sesuai dengan kondisi iklim lokal masing-masing daerah. Langkah ini diperlukan agar risiko gagal panen akibat perubahan cuaca ekstrem dapat diminimalisir sejak awal musim tanam.

Kementan juga menyoroti pentingnya percepatan pengusulan data Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) secara daring untuk mendukung distribusi bantuan sarana produksi pertanian. Data tersebut dinilai krusial agar bantuan seperti pompa air, irigasi perpompaan, dan benih tahan kekeringan dapat tersalurkan secara tepat sasaran.

Dengan berbagai langkah mitigasi tersebut, pemerintah daerah diminta memperkuat koordinasi lintas sektor bersama instansi teknis di lapangan. Pengelolaan dampak perubahan cuaca terhadap sektor pertanian menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional sepanjang tahun 2026.

TERPOPULER

TERKINI

Akhir Juni 2026, Mayoritas Wilayah Kaltim Berpotensi Curah Hujan Rendah

Samarinda, Satu Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Samarinda memprakirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Timur akan mengalami curah hujan kategori rendah...