Selasa, April 21, 2026
No menu items!

Tutupan Lahan Berhutan di Kaltim Tersisa 7,9 Juta Hektar

Balikpapan, Satu Indonesia – Hutan Kalimantan Timur dijuluki sebagai “Paru-Paru Dunia”. Julukan tersebut diklaim bukanlah sekadar label, namun sebagai mesin oksigen raksasa yang menopang kehidupan, penyeimbang iklim global, sekaligus benteng melawan krisis lingkungan.

Hal ini disampaikan Gubernur Kaltim H Rudy Mas’ud dihadapan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan ratusan santri saat silaturahmi Ramadan di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Minggu (1/3/2026).

“Sebagai paru-paru dunia, kebanggaan ini membawa tanggung jawab besar kita semua,” kata Gubernur.

Rudy membeberkan bahwa sebagian besar wilayah Kaltim masih tertutup hutan, yang terdiri hutan lahan kering primer dan sekunder, hutan mangrove, hutan rawa, serta hutan tanaman.

“Meski kita dihadapkan pada tantangan untuk kegiatan ekonomi. Namun Kaltim tetap konsisten menjaga tutupan hutan jauh di atas standar nasional minimal 30 persen,” tambahnya.

Ia juga menyebutkan bahwa luas wilayah Provinsi Kaltim mencapai 127.346,92 km persegi. Sehingga Benua Etam menjadi salah satu wilayah terluas di Indonesia, serta lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Tutupan lahan berhutan Kaltim per 2024-2025 mencapai 62 persen hingga 63 persen dari total luas wilayah provinsi. Setara dengan 7,88 juta hingga 7,9 juta hektare hutan meliputi hutan alam, hutan lindung dan hutan produksi.

Setiap elemen bangsa, baik korporasi, aktivis, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan setiap jengkal hutan tetap tegak berdiri.

“Hutan kita milik dunia yang sangat bergantung pada tangan kita hari ini. Adik-adik santri juga punya peran penting ikut menjaga dan melestarikan hutan,” tegas Gubernur.

Ketua Partai Golkar Kaltim ini berharap menanam pohon menjadi budaya di lingkungan sekolah juga pondok pesantren untuk bersama-sama melestarikan alam dan hutan sejak dini.

Dia pun berharap gerakan menanam pohon harus bertransformasi menjadi budaya hidup, bukan sekadar agenda tahunan dan seremonial.

“Menanam satu pohon adalah tindakan iman, namun merawatnya hingga tumbuh besar adalah komitmen pada kemanusiaan,” pungkasnya.

Redaksi

TERPOPULER

TERKINI