Paser, Satu Indonesia – Mendapat dukungan Pemerintah Pusat dan Bank Indonesia, Kabupaten Paser tengah bertransformasi menjadi lumbung pangan, dimana kedepannya akan menyokong kebutuhan hidup dua provinsi sekaligus, yaitu Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Bumi Daya Taka kini bukan lagi sekadar wilayah lintasan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi mengungkapkan bahwa Paser kini menjadi perhatian pusat lewat berbagai proyek strategis, salah satunya hilirisasi ayam petelur.
“Paser memiliki potensi luar biasa untuk menjadi sentra pangan. Proyek hilirisasi ayam petelur adalah bukti konkret bahwa Pusat menaruh harapan besar di sini. Kedatangan kami adalah untuk memperkuat kolaborasi agar potensi ini meledak menjadi motor ekonomi,” tegas Robi dalam pertemuan dengan Wakil Bupati Paser, H. Ikhwan Antasari, di Ruang Wakil Bupati Paser, Jum’at (27/2/2026).
Sementara itu, Wakil Bupati Ikhwan Antasari menyambut baik optimisme tersebut dengan data yang meyakinkan. Menurutnya, Paser tidak hanya bicara soal telur, tapi juga kedaulatan pangan secara menyeluruh.
“Saat ini, Paser telah dinyatakan surplus beras dan siap memasok kebutuhan tetangga seperti PPU dan Balikpapan,” tegas Wabup.
Desa Lori ditetapkan Desa Nelayan Merah Putih
Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Adi Maulana, menambahkan bahwa Paser kini mulai memproduksi minyak CPO secara mandiri, sebuah lompatan besar bagi ekonomi lokal. Tak hanya itu, Desa Lori kini telah ditetapkan sebagai Desa Nelayan Merah Putih, memperkuat sektor protein hewani dari laut.
Dengan potensi produksi yang bakal melimpah dibutuhkan jalur distribusi yang cepat. Untuk itu, Wabup Ikhwan menegaskan komitmennya bersama Bupati Paser untuk menuntaskan masalah logistik. Dimana sesuai program Asta Cita Presiden mengenai ekonomi kerakyatan, pihaknya berkomitmen penuh.
“Target kami, infrastruktur jalan dan jembatan tuntas pada 2027. Ini adalah ‘karpet merah’ agar seluruh komoditas Paser bisa menyerbu pasar luas dengan biaya logistik yang murah,” pungkas Ikhwan.
Redaksi

