Samarinda, Satu Indonesia – Ikhlas adalah ibadah yang dilakukan oleh hati sehingga tidak bisa terdeteksi secara kasat mata dan sulit diukur oleh pandangan lahir manusia.
Hanya Allah yang mampu menilai kadar keikhlasan yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
إنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ اِلىَ اَجْسَامِكُمْ وَلاَ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) jasadmu dan tidak pula menilai bentuk tubuhmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu.” (HR Muslim).
Meskipun sulit dideteksi, Dzunnun Al-Mishri, salah seorang tokoh sufi yang cukup masyhur itu mengungkapkan bahwa ada 3 ciri orang yang benar-benar ikhlas dalam beribadah.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004), halaman 35, sebagaimana berikut:
1. Tidak Terpengaruh Pujian dan Hinaan
Ciri orang yang hatinya memiliki keikhlasan adalah tidak terpengaruh oleh pujian atau hinaan dari orang lain. Istilah atau jargon yang cocok bagi mereka adalah “dipuji tidak terbang dan dicaci tidak tumbang”. Hal demikian tumbuh dalam hatinya karena semua amal ibadah yang dilakukan murni karena dan untuk Allah.
2. Melupakan Amal
Ciri ikhlas berikutnya adalah tidak pernah mengingat amal ibadah yang telah dilakukan. Orang yang benar-benar ikhlas tidak membicarakan kebaikannya pada orang lain apalagi ada rasa bangga dalam hatinya. Bagi mereka, amal ibadah bukan untuk diingat apalagi dibicarakan pada orang lain karena belum tentu amal tersebut diterima oleh Allah.
3. Berharap Balasan Akhirat
Ciri ketiga dari orang yang ikhlas adalah hanya mengharapkan balasan di akhirat, bukan di dunia. Orang yang ikhlas melakukan amal kebaikan tidak pernah berharap imbalan materi yang bersifat duniawi atau pengakuan dari orang lain. Fokusnya adalah pada pencapaian ridha Allah dan pahala yang telah Allah janjikan di kehidupan akhirat kelak.
Demikian 3 ciri orang yang memiliki keikhlasan dalam beribadah menurut Dzunnun Al-Mishri. Bagi umat Islam, sebaiknya terus berusaha untuk memahami sekaligus menerapkan ikhlas karena merupakan salah satu syarat utama diterimanya ibadah oleh Allah. Wallahu a‘lam.
Sumber: Kemenag

