Jumat, Juni 5, 2026
No menu items!

Ekspor Teh Indonesia Alami Tren Melemah Sepanjang 10 Tahun Terakhir

Jakarta, Satu Indonesia – Sebagai salah satu komoditas unggulan, teh telah menjadi sumber penghidupan bagi jutaan petani di Indonesia.

Selain itu, teh juga berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sektor agribisnis nasional. Kepopulerannya tidak hanya terbatas di pasar domestik, tetapi juga menjadikannya primadona di kancah internasional.

Namun, sejak tahun 2024 lalu nilai ekspor teh tercatat melemah. Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa nilai ekspor teh Indonesia turun menjadi US$52,8 juta dengan volume sebesar 34 ribu ton.

BPS/HO

Nilai ini melemah dari tahun sebelumnya, yang mana pada 2023, Indonesia berhasil mengekspor 35,9 ribu ton teh dengan nilai mencapai US$69 juta.

Dalam satu dekade terakhir, nilai ekspor teh Indonesia terus mengalami fluktuasi. Pada 2015, nilai ekspornya mencapai US$126 juta, turun tipis dari tahun sebelumnya yang sebesar US$134,6 juta.

Tren penurunan nilai ekspor teh ini sudah terlihat setidaknya sejak 2010, di mana nilai ekspor yang kala itu sebesar US$178 juta anjlok menjadi US$166 juta setahun setelahnya.

Pada 2016, nilai ekspor kembali turun menjadi US$113 juta, meski sempat naik tipis menjadi US$114,2 juta pada 2017.

Tahun 2018, nilai ekspor teh Indonesia kembali melemah menjadi US$108 juta, dan terus turun menjadi US$92 juta pada 2018. Nilai ekspor teh pun terus turun hingga mencapai titik terendah dalam satu dekade terakhir pada 2024.

Berbarengan dengan itu, volume ekspor teh Indonesia juga terus menurun. Indonesia sempat mengekspor 102,5 ribu ton teh pada 2005, yang kemudian berangsur turun hingga ke titik terendah pada 2024 dengan hanya 34 ribu ton saja.

Sebaliknya, impor teh ke Indonesia justru meningkat. Pada 2024, Indonesia mengimpor 13 ribu ton teh dengan nilai mencapai US$31,1 juta. Nilai ini naik dari tahun 2023 dengan impor sebesar 9,6 ribu ton senilai US$25,8 juta.

Luas areal perkebunan teh di Indonesia juga terus berkurang, pada 2024 luasnya hanya 97,5 ribu hektare, padahal sepuluh tahun sebelumnya mencapai 114,9 ribu hektare.

Bersamaan dengan itu, produksi teh di Indonesia juga terus melemah, menjadi 118,9 ribu ton daun teh kering dari 132,6 ribu ton pada 2015.

Kondisi ini tentu membutuhkan intervensi strategis untuk memperbaiki penurunan ekspor teh Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai salah satu eksportir teh utama di dunia.

Harga teh yang rendah di pasar lokal membuat perkebunan teh dipandang tidak layak secara finansial, sehingga perawatan turun, yang membuat hasil panen jadi lebih rendah.

Hal ini membuat ekspor turun dan impor terus meningkat, guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Posisi Indonesia di pasar teh global pun melemah.

Untuk mengatasi hal ini, Indonesia menargetkan 123 ribu hektare perkebunan teh pada 2045, mencakup rehabilitasi lahan terbengkalai dan pembukaan lahan perkebunan baru.

Selain itu, pemerintah juga bakal mendorong produktivitas dengan rata-rata produksi 2.500 kg teh kering per hektare per tahun.

Ke depannya, Indonesia akan mengadopsi standar kualitas internasional untuk menjamin keamanan teh yang diekspor, dengan tujuan mampu meningkatkan daya saing global.

Sumber: BPS, GoodStats

TERPOPULER

TERKINI