Jakarta, Satu Indonesia – Kemendikdasmen secara resmi salurkan Insentif Guru Non Aparatur Sipil Negara (Non-ASN), Bantuan Subsidi Upah bagi Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Nonformal, dan Bantuan Afirmasi Kualifikasi S-1/D-4 Guru.
Kebijakan ini diklaim sebagai komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kompetensi, kinerja, dan kesejahteraan guru melalui pemenuhan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Prabowo saat perayaan Hari Guru Nasional (HGN) beberapa waktu lalu telah menegaskan pentingnya peran guru dalam memajukan negara.
Maka untuk tahun ini, pemerintah memberikan insentif bagi 12.500 guru untuk menempuh jenjang pendidikan S-1/D-4 melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) di 112 perguruan tinggi dengan alokasi dana sebesar 37,5 miliar.
Tak hanya itu, Bantuan insentif juga diberikan bagi 341.248 guru non-ASN sebesar Rp300.000 per bulan. Tahun ini, insentif tahap pertama diberikan sekaligus untuk tujuh bulan sebesar Rp2,1 juta per guru, dan ditransfer langsung ke rekening penerima.
Bahkan, pemerintah juga menyalurkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) untuk 253.407 guru PAUD Nonformal. BSU yang diberikan adalah sebesar Rp300.000 untuk dua bulan. Total anggaran sebesar Rp125 miliar telah ditransfer ke rekening masing-masing guru.
Sebelumnya, Plaza Insan Berprestasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerima Kado HUT RI dari Presiden untuk Guru dengan keceriaan dan rasa haru dari para pendidik pada Rabu (6/8/2025).
Acara yang digelar di Jakarta ini diawali dengan penampilan sejumlah siswa SDN 02 Menteng dan PAUD Mekar Asih tampil yang penuh semangat.
Acara yang bertajuk “Kado HUT RI dari Presiden untuk Guru” ini digelar dalam rangka peluncuran tiga program strategis dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai kado ulang tahun bagi para pendidik menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia.
Acara ini menjadi lebih syahdu saat anak-anak menyanyikan lagu Terima Kasihku (Guruku) di mana para murid menyerahkan Bendera Merah Putih kepada para guru yang hadir sebagai sebuah simbol penghargaan yang tinggi kepada para guru yang tanpa lelah berjuang mendidik anak didiknya.
Firman Iman, guru di SD Bhakti YKKP, mengungkapkan bahwa guru kini dituntut lebih aktif, tidak hanya dalam mengajar, tetapi juga membimbing karakter anak-anak menuju cita-cita bangsa.
Sementara Iis Solihat, pendidik di PAUD Harapan Bunda, dengan tulus mengatakan bahwa meskipun gaji mereka jauh dari kata cukup, rasa syukur dan cinta pada anak-anak membuatnya tetap bertahan.
Demikian pula Indri dari PAUD Bunda Mulia menambahkan bahwa latar belakang anak-anak yang beragam justru menjadi tantangan yang menggerakkannya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dan inklusif.
Tak hanya sekadar menjalankan peran, mereka juga merasa bahwa negara hadir dan tidak membiarkan mereka berjalan sendiri.
“Ini merupakan pengakuan bahwa saya tidak sendiri, ada pemerintah yang membantu saya mewujudkan generasi emas 2045,” ungkap Indri dengan haru.
Selanjutnya, Ahmad Nurul Huda dari SMK Ma’arif NU menekankan pentingnya peningkatan kapasitas guru di era teknologi. Baginya, insentif dari negara bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga dorongan moral untuk terus memberikan layanan pendidikan terbaik.
Sementara itu, Aba Rahantan dari SD Muhammadiyah 2, yang sedang menempuh pendidikan S-1 melalui bantuan afirmasi, menyampaikan rasa syukurnya karena bantuan tersebut meringankan beban biaya studi dan membuktikan bahwa negara hadir dalam pengembangan kualitas guru.
Bagi sebagian guru, bantuan itu lebih dari sekadar angka—ia adalah bentuk penghargaan atas pengabdian panjang yang sering luput dari sorotan. Ratih Yuni, SD Bhakti YKKP, Penerima Insentif Guru Non-ASN merasa terharu diadakannya program ini.
“Bantuan insentif ini bukan hanya sekadar angka buat saya tetapi ini merupakan sebuah penghargaan di mana saya sudah mengabdikan diri sebagai seorang guru selama kurang lebih 13 tahun ini,” ujarnya.
Redaksi

