Paris, Satu Indonesia – Seorang Muslim bernama Aboubakar Cisse ditikam puluhan kali hingga tewas di sebuah masjid di Prancis pada Jumat (25/4/2025).
Pelaku, yang disebut pejabat Prancis sebagai ‘Islamofobia’ memfilmkan kejadian sambil meneriakkan kebencian pada Islam.
Polisi di Prancis selatan terus mencari tersangka penusukan fatal seorang jemaah Muslim di dalam masjid tersebut.
Pihak berwenang mengatakan seorang pria berusia 20-an menikam jamaah tersebut puluhan kali di sebuah masjid Bernama Masjid Khadidja di desa La Grand-Combe, sebelah utara Montpellier.
Surat kabar Le Parisien mengutip sumber investigasi yang mengatakan penyerang kemudian memfilmkan korban, yang berusia awal hingga pertengahan 20-an, dengan ponselnya saat ia terbaring sekarat.
Video tersebut dikirim ke seorang teman yang kemudian mengunggahnya secara daring sebelum menghapusnya, menurut laporan media Prancis.
Kamera pengintai di masjid juga menangkap serangan tersebut, yang memperlihatkan penyerang dan korban sendirian di dalam Masjid. Jenazahnya baru ditemukan pada pagi hari saat jamaah shalat Jum’at mulai memasuki masjid.
Media Prancis mengatakan korban adalah jamaah tetap di masjid tersebut. Orang-orang mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa korban berasal dari Mali dan “sangat terkenal” serta sangat dihormati di tempat asalnya.
Penyidik juga mengatakan bahwa sang pembunuh belum pernah terlihat di sana sebelumnya. Jaksa wilayah Abdelkrim Grini mengatakan kepada AFP bahwa tersangka masih bebas hingga Sabtu.
Menggambarkan pembunuhan itu sebagai kemungkinan kejahatan Islamofobia, Grini mengatakan kantor kejaksaan antiteror Prancis sedang mempertimbangkan apakah akan mengambil alih kasus tersebut.
Sumber lain mengatakan kepada AFP bahwa tersangka telah diidentifikasi sebagai warga negara Prancis asal Bosnia yang bukan seorang Muslim.
Selama penyerangan, pria itu dilaporkan meneriakkan hinaan terhadap Allah. Perdana Menteri Prancis François Bayrou mengutuk penusukan itu, menggambarkannya dalam sebuah posting di X Sabtu malam sebagai “kekejaman Islamofobia.”
“Kami mendukung keluarga korban dan para umat yang terkejut,” tulis Bayrou, seraya menekankan bahwa pihak berwenang tengah melakukan segala upaya untuk menangkap pelaku dan menyeretnya ke pengadilan.

