Samarinda, Satu Indonesia – Masa balita adalah masa anak yang berumur 0-59 bulan, dimana proses pertumbuhan dan perkembangannya sangatlah pesat. Pada masa ini asupan makanan mereka memerlukan begitu banyak zat-zat gizi yang berkualitas tinggi.
Sementara autisme, adalah gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan anak kesulitan dalam berperilaku, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Kondisi ini punya sejumlah ciri yang dapat dikenali.
Menurut penelitian, gejala autisme dapat diketahui sejak balita. Ciri-ciri autisme pada balita biasanya meliputi gangguan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. Selain itu, anak dengan autisme juga bisa memiliki keterlambatan keterampilan bahasa, gerakan, kognitif, atau belajar.
Namun ternyata salah satu hal yang dianggap menjadi ciri anak autis ialah suka menyusun barang atau mainan.
Seperti halnya pengidap gangguan obsesif kompulsif (OCD), balita dengan autisme diyakini memiliki kecenderungan untuk gemar menyusun, menumpuk, dan mengatur mainan maupun barang lainnya.
Namun, apa benar anak suka menyusun mainan atau benda merupakan tanda autisme? Dilansir dari Klik Dokter, ini faktanya dari kacamata psikologi!
Anak Suka Menyusun Barang Belum Tentu Gejala Autisme
Dalam dunia psikologi, kebiasaan anak suka menyusun barang tidak dapat dijadikan acuan si kecil mengidap autisme. Karena, suka menyusun barang adalah salah satu tahap perkembangan kognitif balita.
Di fase ini, anak senang mengeksplorasi, menyusun atau melihat suatu persamaan dan perbedaan benda. Mereka juga sedang belajar mengorganisasi sesuatu.
Karenanya, balita senang menyusun mainan atau benda. Biasanya, ketertarikan anak dalam menyusun benda mulai terlihat pada usia 1-2 tahun. Kemampuan ini akan terus berkembang seiring bertambahnya usia mereka.
Jadi, Ayah dan Bunda tidak perlu khawatir ketika memiliki anak yang hobi menyusun barang. Karena ini adalah salah satu pertanda bahwa si kecil memiliki perkembangan yang sesuai.
Cermati Gejala Autisme Secara Menyeluruh
Anak suka menyusun barang belum tentu mengidap autisme. Untuk mengenali kondisi gangguan perkembangan saraf tersebut, Ayah dan Bunda harus mencermati ciri autisme yang lebih khas pada balita.
Umumnya, balita akan merasa nyaman menatap wajah, mata, dan ekspresi orang terdekatnya, seperti ayah dan ibu. Namun, anak-anak dengan autisme tidak demikian. Mereka umumnya enggan melakukan kontak mata dan sulit tersenyum.
Ciri-ciri anak autis juga cenderung mengabaikan sekitar dan sulit membina komunikasi. Umumnya, gejala autisme ini bisa terlihat ketika anak memasuki usia 9 bulan.
Pada usia tersebut, anak-anak seharusnya sudah mulai merespons sekitar, termasuk menoleh ketika namanya dipanggil Ayah dan Bunda. Pada usia 12 bulan, anak seharusnya juga mulai merespon ketika bermain cilukba.
Untuk mengidentifikasi gejala autisme pada anak, Ayah dan Bunda bisa menatap wajah si kecil dengan ekspresi datar, lalu tersenyum lebar. Lakukan beberapa kali.
Balita biasanya akan merespons dengan senyuman juga, meski tidak selalu. Sebaliknya, anak autisme mungkin akan mengabaikan Ayah dan Bunda.
Tidak cukup sampai di situ, cobalah berinteraksi dengan si kecil dan perhatikan respons dan gesture tubuhnya. Kebiasaan anak autis umumnya tidak akan menoleh ketika dipanggil namanya.
Ia juga cenderung tidak tertarik ketika Ayah dan Bunda berusaha mengobrol dengannya. Karena, anak dengan spektrum autisme cenderung lebih memperhatikan dan mendengarkan sesuatu yang menarik minatnya.
Selain itu, anak dengan autisme juga sangat sensitif terhadap bunyi di sekitar. Fokusnya akan mudah teralihkan dengan suara mobil, kipas angin, maupun hal lain yang mengganggu pendengarannya.
Gejala autisme pada balita lainnya yang patut dicermati, yaitu keterlambatan dalam berbicara dan mengeluarkan suara atau bunyi, hingga suka melakukan gerakan berulang.
Anak-anak autisme juga cenderung menangis dan tertawa di waktu yang tidak tepat. Sebab, mereka kerap merasa gugup dan tidak nyaman.
Autisme tidak dapat didiagnosis hanya melalui kebiasaan anak suka menyusun mainan atau benda apa pun. Untuk mengidentifikasi gangguan perkembangan saraf pada balita, cobalah cermati gejala autisme lainnya dan konsultasikan bersama dokter anak.

