Samarinda, Satu Indonesia – Kota Samarinda gencar melakukan upaya penanganan terhadap lonjakan volume sampah yang terus meningkat tiap tahunnya.
Sebagaimana diketahui, untuk mengatasi permasalahan tersebut Pemkot Samarinda telah menyiapkan solusi strategis, yaitu penerapan teknologi mesin insinerator. Teknologi alat pembakar sampah berbasis komunal ini diklaim mampu mengurangi volume sampah hingga ratusan ton per hari.
Menurut Wali Kota Samarinda Andi Harun, pihaknya menargetkan insinerator tersebut untuk mulai beroperasi pada akhir tahun ini. Dalam rangka mempercepat proses pengelolaan sampah secara efektif, rencananya mesin insinerator tersebut akan ditempatkan di 10 kecamatan strategis di Kota Samarinda.
Insinerator ini diproyeksikan mampu membakar 10 ton sampah dalam waktu 8 jam kerja. Dengan dua kali siklus pembakaran, alat ini dapat mengolah hingga 20 ton sampah per hari.
Jika diterapkan secara maksimal, Samarinda bisa mengurangi 200 ton sampah per hari, dan diperkirakan beroperasi akhir tahun nanti.
Diperkirakan anggaran yang dibutuhkan untuk proyek ini ialah sebesar Rp 10 miliar, dengan estimasi harga per unit insinerator sekitar Rp 1 miliar.
Dan menariknya, harga insinerator yang akan didatangkan ke Samarinda jauh lebih hemat dibandingkan dengan insinerator di beberapa kota lain yang mencapai Rp 4,9 miliar per unit.
“Dengan harga lebih ekonomis, sekitar kurang lebih Rp 1 miliar per unit, kami berani mengambil sepuluh unit sekaligus,” ujar Andi Harun, dikutip Jum’at (4/4/2025).
Andi Harun menegaskan bahwa insinerator yang akan digunakan memiliki perbedaan dibandingkan dengan yang ada di beberapa kota lain di Indonesia. Namun, secara prinsip, cara kerja insinerator tetap mengandalkan proses pembakaran.
“Prosesnya tetap pembakaran. Hasil pembakaran akan berupa abu, yang nantinya akan dikelola kembali menjadi paving blok,” jelasnya.
Nah, abu hasil pembakaran sampah ini akan diolah menjadi paving blok yang dapat digunakan untuk mempercantik kota Samarinda.
Rencana awalnya, paving blok tersebut akan digunakan untuk taman kota dan fasilitas umum lainnya. Jika hasilnya memenuhi standar, paving blok ini bahkan berpotensi memiliki nilai komersial.
“Untuk tahap pertama, kami akan gunakan paving blok ini di lingkungan pemerintahan seperti taman. Ke depan, tidak menutup kemungkinan dapat bernilai komersial,” tegas Andi Harun.
Sebelum memutuskan penggunaan insinerator ini, Pemkot Samarinda telah melakukan studi banding ke beberapa kota. Salah satu perbedaan utama yang ditemukan adalah sistem pembuangan asap dan jenis sampah yang bisa dikelola.
“Di beberapa kota lain, cerobong asapnya langsung membuang emisi ke udara. Sementara itu, insinerator kami akan memiliki sistem penyaringan lebih ramah lingkungan, di mana asap akan melewati kolam atau instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sebelum dialirkan ke drainase,” timpalnya.
“Selain itu, insinerator yang akan digunakan di Samarinda mampu mengolah hampir semua jenis sampah organik, kecuali beberapa material seperti keramik, botol kaca, bonggol jagung, dan cangkang kelapa,” tutupnya.

