Samarinda, Satu Indonesia – Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah pusat berimbas pada sektor kebersihan di beberapa kota di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, pekerjaan seperti petugas keamanan, petugas kebersihan, dan pengemudi merupakan yang paling terdampak.
Di Jember Jawa Timur, kebijakan tersebut dinilai telah berujung pada dirumahkannya ratusan petugas kebersihan, sehingga menimbulkan tumpukan sampah yang menggunung di sejumlah ruas jalan protokol.
Sementara itu, di Kota Samarinda, beberapa titik Tempat Pembuangan Sampah (TPS) belakangan ini juga menunjukkan peningkatan volume sampah. Misalnya di daerah Bengkuring, Selili, dan Sungai Kunjang.
Meskipun demikian, pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda menegaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran tidak mempengaruhi pengelolaan sampah di wilayah tersebut.
Dalam keterangannya, Rabu (26/2/2025), Boy Leonardo Sianipar selaku Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda menjelaskan bahwa kendala yang terjadi sebenarnya bersumber dari permasalahan teknis.
“Secara data belum ada pengaruh terhadap kebijakan efisiensi anggaran, hanya saja ada kendala teknis yaitu beberapa armada yang rusak,” ucapnya, dikutip Kamis (27/2/2025).
Kerusakan tersebut juga berada dalam jarak waktu yang berdekatan dengan proses pembuangan di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) di kawasan Sambutan yang saat ini sedang dalam tahap rehabilitasi.
Sehingga kondisi tersebut mengharuskan antrian armada dan menyebabkan keterlambatan dalam pengambilan sampah, yang mana hal itu menimbulkan banyak keluhan warga di Samarinda.
“Tapi kami berupaya maksimal untuk terus mengoptimalkan pengangkutan sampah,” jelasnya.
Selain itu, ada faktor-faktor lain yang dianggap menyebabkan adanya penumpukan sampah terutama di jam-jam kerja yang ramai, yakni perilaku masyarakat yang suka membuang sampah di luar jadwal yang telah diatur.
“Kalau hal ini jelas berpengaruh. Apabila masyarakat patuh terhadap jam buang sesuai perda, penumpukan sampah di siang hari tentu akan lebih mudah diatasi, mengingat armada DLH lebih banyak beroperasi pada malam hari. Selain itu, jumlah sampah yang terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan sampah di Kota Samarinda,” tutupnya.

