Rabu, Mei 6, 2026
No menu items!

Hadiri Pengajian di Samarinda, Haedar Nasir Ungkap Tiga Pilar Utama Kemajuan Bangsa

Samarinda, Satu Indonesia – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir hadiri Pengajian Hari Bermuhammadiyah, yang dirangkai dengan Pembukaan Musyawarah Wilayah Hizbul Wathan Kalimantan Timur, dan Peresmian beberapa gedung Sekolah Muhammadiyah pada Sabtu (22/2/2025) lalu.

Acara ini dilaksanakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur di SD Muhammadiyah 5 Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim).

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan tiga pilar yang menentukan kemajuan setiap umat atau bangsa di dunia.

“Kalau kita saksikan perkembangan bangsa-bangsa. Hampir ada pola yang tetap. Setiap umat atau bangsa yg maju itu pasti pilarnya adalah sumber daya manusia, kedua pendidikan dengan segala kaitannya, tiga ekonomi,” ungkap Haedar Nashir, dikutip Sabtu (22/2/2025).

Menurut Haedar, negara-negara ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations) seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan juga Kamboja saat ini telah memiliki human development index (HDI) yang berada  jauh di atas kita, negara Indonesia.

“Memang angka (HDI) kita juga naik, tapi dibanding 5 negara ASEAN kita, Indonesia masih di bawah atau dalam bahasa lain mereka sudah di atas. Dan kita menyebutnya sebagai negara yang bertumbuh maju bahkan Singapura menjadi negara maju,” imbuhnya.

Lebih lanjut Haedar menjelaskan, apabila bangsa Indonesia ingin membangun peradaban, ketiga bidang itu harus diperkuat. Yaitu bidang sumber daya manusia, bidang pendidikan yang nanti berkaitan dengan kesehatan dan juga sosial, lalu bidang ekonomi.

Bahkan diketahui ada rumusan yang menyatakan jika tiga bidang ini sudah stabil, politik juga akan menguat. Sebaliknya, jika di tiga bidang ini lemah, nanti politik suatu bangsa atau negara juga akan lemah.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga menyatakan bahwa ia mengamati bahwa umat muslim Indonesia terkhusus anak muda memiliki semangat haji dan umrah yang luar biasa, namun di saat bersamaan, pendidikan umat islam masih bisa dikatakan tertinggal.

“Semangat berumrah, berhaji itu luar biasa, termasuk bagi generasi baru, anak-anak muda luar biasa untuk umrah dan haji. Tapi di bidang pendidikan umat islam masih tertinggal, ukurannya tadi HDI kita masih di bawah 5 negara ASEAN. Ini kan bukti nyata, angka yang tidak bisa dibantah,” tegas Haedar.

Haedar melanjutkan, angka HDI tersebut justru harus membuat bangsa kita bersungguh-sungguh. Maka, menjalani dan melaksanakan pendidikan itu tidak cukup dengan simbol-simbol, tapi harus dengan kerja keras.

Kemudian ia menyoroti perihal IQ orang Indonesia yang berada pada angka 78,49 yang sejajar dengan Timor Leste dan Papua Nugini. IQ yang rendah pasti berkaitan dengan gizi rakyat yang tidak terpenuhi. “Kalau IQ kita rendah, kita tidak bisa berbuat banyak untuk masa depan,” ungkapnya.

TERPOPULER

TERKINI