satuindonesia.co.id, Balikpapan – Sejumlah warga Israel saat ini dilaporkan tengah terinfeksi virus West Nile.
Virus west Nile (WNV) masalah patogen neurotropik manusia yang merupakan agen penyebab deman west Nile dan ensefalitis.
Setidaknya 100 orang di Israel telah terinfksi virus West Nile. Dari jumlah tersebut, delapan orang dirawat di unit perawatan intensiff dengan kondisi kritis dan diberi ventilator.
Menurut laporan Jerussalem Post dilansir dari RRI, warga yang terkena virus ini tengah mendapatkan perawatan di rumah sakit di Tel Aviv.
Sudahkah anda tahu tentang virus ini beserta penyebab, gejala dan penanganannya?
Apa itu Virus West Nile?
Mengutip dari laman clevelandclinic.org dilansir dari RRI, West Nile merupakan virus RNA dalam genus Flavivirus. Virus ini serupa dengan virus yang menyebabkan demam berdarah, demam kuning, dan Zika.
West Nile menyebar melalui gigitan nyamuk. Awalnya, nyamuk biasanya tertular virus saat menggigit burung yang terinfeksi. Sejauh ini tidak ada bukti bahwa manusia tertular langsung dari burung, sehingga disimpulkan virus ini menyebar melalui nyamuk ke manusia.
Virus West Nile memiliki masa inkubasi (lamanya waktu sebelum seseorang atau hewan merasakan gejala), dua hingga enam hari setelah digigit. Namun terdapat juga kasus yang sampai 14 hari masa inkubasi. Virus ini bisa menular dari ibu hamil ke janinnya, ibu yang menyusui anaknya, transfusi darah dan transplantasi organ.
Nama West Nile sendiri diambil dari nama sebuah distrik di Uganda, tempat pertama kalinya virus ini teridentifikasi. Virus ini pernah menjangkit beberapa kawasan dunia, seperti Afrika, Asia, Timur Tengah, Eropa, Amerika Utara hingga Australia.
Bagaimana Gejala Infeksinya?
Masih dari sumber yang sama, mayoritas orang yang terkena virus ini tidak menunjukkan gejala. Laporan mencatat hanya sekitar 1 dari 5 orang yang menunjukkan gejala seperti demam, nyeri otot dan ruam. Dalam kasus yang parah namun jarang terjadi, infeksi virus ini bisa menyebabkan radang otak dan sumsum tulang belakang.
Bagaimana Gejala Infeksinya?
Masih dari sumber yang sama, mayoritas orang yang terkena virus ini tidak menunjukkan gejala. Laporan mencatat hanya sekitar 1 dari 5 orang yang menunjukkan gejala seperti demam, nyeri otot dan ruam. Dalam kasus yang parah namun jarang terjadi, infeksi virus ini bisa menyebabkan radang otak dan sumsum tulang belakang.
Gejala virus ini terbagi dalam dua tingkatan, yaitu gejala biasa dan gejala yang lebih parah atau serius.
Gejala umum meliputi :
• Demam
• Nyeri otot
• Sakit kepala
• Mual dan muntah
• Diare
• Ruam punggung dan dada
• Nyeri di belakang mata
• Sakit tenggorokan
• Kelenjar getah bening membengkak
Gejala serius meliputi :
• Demam tinggi diatas 39,5° Celcius
• Sakit kepala hebat
• Leher kaku, hingga tidak dapat merunduk
• Kebingungan
• Otot melemah
• Tremor atau kejang
• Kelumpuhan
• Koma
Bagaimana penanganannya?
Sebelum mengetahui penanganannya, anda harus memastikan terjangkit tidaknya virus ini dengan uji laboratorium melalui sample darah.
Clevelandclinic.org menyebutkan belum terdapat obat atau vaksin khusus dari virus ini. Untuk gejala ringan bisa diobat dengan obat flu atau pilek dan tingkatkan sistem kekebalan tubuh anda. Sementara untuk gejala serius anda harus mendatangi penyedia layanan kesehatan terdekat. Langkah yang umum dilakukan rumah sakit adalah beragam tindakan untuk mengurangi pembengkakan otak.
Karena tidak ada vaksin maka cara terbaik menghindari infeksi virus ini adalah dengan melindungi diri dari gigitan nyamuk. Berikut langkah yang bisa dilakukan :
• Hindari waktu aktif nyamuk, terutama pagi hari dan menjelang waktu terbenamnya matahari.
• Gunakan obat nyamuk yang telah terbukti efektifitasnya.
• Memberantas sarang nyamuk dengan menguras genangan air, mengubur sampah, menutup penampungan air dan seterusnya.
Redaksi

