Jumat, November 6, 2026
No menu items!

OIKN dan Korea Selatan Perkuat Kerja Sama dalam Nusantara Smart City Forum 2026

Nusantara, Satu Indonesia – Nusantara Smart City Forum (NSCF) 2026 digelar oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bersama Republik Korea Selatan di Kantor Bersama 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara pada Selasa (3/11/2026).

Forum edisi kedua ini mengangkat tema GREEN, dengan dua agenda utama yang dibahas, yakni penerapan teknologi kota cerdas di Nusantara serta pembangunan hijau berbasis pengetahuan lokal.

Sebanyak lebih dari 150 peserta dari unsur pemerintah, akademisi, peneliti, serta praktisi teknologi mengikuti kegiatan tersebut, baik secara luring maupun daring.

Dari Republik Korea Selatan, keterlibatan dalam forum ini meliputi Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MOLIT), University of Seoul, CJ OliveNetworks, serta Korea Institute of Civil Engineering and Building Technology (KICT).

Melalui pembangunan Smart City Cooperation Center (SCCC) di IKN, Pemerintah Korea Selatan mendapat apresiasi dari Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono. Ia juga mendorong perguruan tinggi dan mahasiswa di Kalimantan Timur untuk memanfaatkan proyek tersebut sebagai tempat menerapkan hasil penelitian secara langsung.

“Kalau apa yang Bapak tulis di sini bisa diimplementasikan, itu jauh lebih baik daripada hanya tinggal di paper. Jadi, saya mohon betul, ajak mahasiswanya agar tidak hanya gedung-gedung fisik di IKN ini yang berdiri, tetapi juga ilmu pengetahuan, khususnya dengan smart city technology,” ujar Basuki.

Pertukaran teknologi dan pengetahuan antara Indonesia dan Korea Selatan juga menjadi bagian dari proyek tersebut, sebagaimana dijelaskan Project Manager SCCC dari CJ OliveNetworks, Kido Oh. Ia menyebutkan, forum ini menjadi wadah pertemuan para ahli dari kedua negara untuk membahas penerapan teknologi kota cerdas di Nusantara.

“Proyek ini bukan hanya tentang membangun Smart City Cooperation Center, tetapi juga tentang kerja sama teknologi dan berbagi pengetahuan antara kedua negara. Saya berharap pertukaran teknologi dan pengetahuan di antara para ahli akan terus berjalan, bahkan setelah proyek ini berakhir,” ujar Kido Oh.

Selain pihak Korea Selatan, akademisi dan pemangku kepentingan dari Kalimantan Timur juga dilibatkan dalam forum ini, termasuk Politeknik Negeri Samarinda, Institut Teknologi Kalimantan, Universitas Mulawarman, dan Universitas Balikpapan. Energi terbarukan, pembangunan kawasan berkelanjutan, pertanian perkotaan, serta pemanfaatan teknologi menjadi pengetahuan yang turut dibagikan sejumlah akademisi.

Pentingnya hubungan antara IKN dan wilayah sekitarnya dalam pembangunan kota turut disoroti oleh Ir. Rahmat Aris Pratomo, Ph.D., dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Dalam pendekatan Regional Circular and Ecological Sphere (R-CES), Rahmat menekankan bahwa pengembangan Nusantara perlu memperhatikan keterhubungan pengelolaan sumber daya dengan daerah sekitar, termasuk Balikpapan, Samarinda, Penajam Paser Utara, dan Kutai Kartanegara.

“Kota, apakah kita menyebutnya hijau, pintar, atau bahkan kota hutan, tidak bisa berdiri sendiri. Seberapa hijau sebuah kota bergantung pada hubungannya dengan kawasan di sekelilingnya,” ujar Rahmat.

Sebagai living lab untuk pengoperasian gedung cerdas dan gedung hijau, pemanfaatan SCCC juga dibahas dalam forum ini, termasuk pengembangan indikator kinerja atau Key Performance Indicators (KPI). Kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan melalui forum ini diharapkan dapat menghasilkan penerapan teknologi sesuai kebutuhan pembangunan IKN, sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

(MH/Nisrina)

TERPOPULER

TERKINI

BPBD PPU Data Kerusakan Rumah Akibat Puting Beliung

Penajam, Satu Indonesia - Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaksanakan pengecekan sekaligus pendataan kebutuhan bantuan material untuk...