Samarinda, Satu Indonesia – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mengusulkan tiga kegiatan prioritas dalam penyusunan Annual Work Plan (AWP) Tahun 2027. Usulan tersebut berkaitan dengan pengendalian pencemaran, rehabilitasi lingkungan, serta peningkatan pengelolaan laboratorium lingkungan hidup.
Dalam paparannya pada Selasa (14/07/2026), Pengendali Dampak Lingkungan DLH Kota Samarinda, Iwan Setiawan mengatakan tiga kegiatan tersebut disusun untuk mendukung program lingkungan berbasis karbon.
Menurut Iwan, setiap kegiatan memiliki indikator capaian yang terukur agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
“Yang tahun ini kebetulan dari Bappeda meminta kami menyusun AWP khusus terkait dengan karbon. Ada tiga kegiatan yang kami usulkan,” kata Iwan.
Lebih lanjut Iwan menjelaskan, program pertama yaitu pemulihan pencemaran melalui pelaksanaan remediasi. Kegiatan ini diarahkan untuk melakukan optimalisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, termasuk identifikasi lapangan, pengambilan sampel air limbah, serta evaluasi sistem pengolahan.
Menurutnya, salah satu lokasi yang menjadi sasaran kegiatan tersebut adalah IPAL komunal Turatea di Handil Bakti, Kecamatan Palaran. Program tersebut memiliki cakupan pelayanan sekitar 40 kepala keluarga dengan target peningkatan kualitas lingkungan di kawasan sungai.
“Kami mengontrolnya dalam rangka menunjang indeks kualitas air, khususnya di kawasan sungai karena output dari IPAL yang dibangun adalah ke sungai semua,” ujarnya.
Program kedua yang diusulkan adalah rehabilitasi lahan kritis melalui penanaman bibit tanaman. Kegiatan tersebut menyasar sejumlah lokasi seperti Pemakaman Husnul Khatimah Kelurahan Sungai Siring, Pemakaman Serayu Kelurahan Tanah Merah, serta kawasan sempadan Sungai Karang Mumus Tepian Lempake.
Untuk kegiatan rehabilitasi tersebut, DLH Samarinda menargetkan pemulihan lahan kritis seluas sekitar 4,5 hektare dengan dukungan anggaran sekitar Rp400 juta.
Sementara untuk program ketiga, DLH juga mengusulkan penguatan laboratorium lingkungan melalui pengadaan peralatan pengujian kualitas air.
“Laboratorium lingkungan kami saat ini melakukan pengujian air sungai dan air limbah. Kami membutuhkan tambahan alat karena DO meter yang ada sudah berusia lebih dari empat tahun dan kinerjanya mulai menurun,” ucapnya.

