Mojokerto, Satu Indonesia – Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Jawa Timur dinilai berhasil mendorong penguatan pertanian organik berbasis masyarakat di Komunitas Petani Organik Brenjonk, Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Program pendampingan yang berjalan sejak 2018 itu tidak hanya meningkatkan kapasitas petani, tetapi juga menciptakan ekosistem usaha dari hulu hingga hilir yang berdampak pada ekonomi desa, ketahanan pangan, hingga mitigasi perubahan iklim.
Ketua Komunitas Petani Organik Brenjonk menyebut dukungan BI diberikan melalui skema Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) maupun non-PSBI. Fasilitasi tersebut meliputi pembangunan sarana pengemasan, dukungan pompa air, penyediaan fasilitas edukasi dan aula belajar, hingga penguatan sumber daya manusia melalui sekolah lapang pertanian organik.
Selain itu, komunitas juga mendapatkan pendampingan sertifikasi organik, edukasi kelembagaan, hingga penguatan akses pasar premium. Produk pertanian Brenjonk kini dipasarkan ke sejumlah jaringan ritel modern seperti Super Indo, Ranch Market, hingga Papaya Market.
“Selama lima tahun ini, kami gunakan untuk peningkatan sumber daya manusia. Kita adakan sekolah lapang pertanian organik sehingga petani memahami sistem pertanian organik sesuai standar SNI dan bisa mendapatkan lisensi organik Indonesia,” ujar Ketua Komunitas Petani Organik Brenjonk, Slamet, di Trawas, Jumat (22/5/2026).
Dampak dari pendampingan tersebut dinilai signifikan. Harga produk organik meningkat jauh dibanding produk konvensional. Bayam organik misalnya, yang biasanya dijual sekitar Rp6 ribu per kilogram, dapat mencapai Rp25 ribu per kilogram setelah melalui proses pengemasan dan branding.
Tak hanya sektor pertanian, kawasan Brenjonk juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi dan kuliner berbasis pertanian organik. Saat ini kawasan tersebut dikunjungi sekitar 8.500 orang per bulan dengan perputaran ekonomi kuliner mencapai sekitar Rp300 juta setiap bulan.
“Sekarang per bulan itu mencapai 8.500 orang. Ada uang berputar di lokasi dengan radius lima hektare ini kira-kira Rp300 juta untuk kuliner per bulan dan pekerjanya dari warga kampung sini,” katanya.
Menurutnya, model pemberdayaan yang diterapkan Brenjonk sangat mungkin direplikasi di wilayah lain seperti Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), maupun Paser. Konsep integrasi pertanian, peternakan, pengolahan produk, wisata, hingga penguatan pasar dinilai mampu memperkuat ekonomi petani kecil sekaligus menciptakan ketahanan menghadapi krisis.
Ia menilai sistem pertanian organik juga terbukti lebih tahan terhadap gejolak ekonomi maupun perubahan iklim karena memanfaatkan sumber daya lokal dan mengurangi ketergantungan pada input eksternal.
“Apakah ini nanti bisa direplikasi di Balikpapan sana, saya pikir sangat mungkin. Hilirisasi untuk kelompok tani kecil sehingga apa yang kecil-kecil ini kuat dan petani bisa bertahan di suasana apa pun,” ujarnya.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, pertanian organik di Brenjonk juga menghasilkan dampak lingkungan positif. Sistem pertanian tertutup yang diterapkan membuat limbah pertanian dan peternakan kembali diolah menjadi pupuk organik melalui pemanfaatan mikroorganisme lokal. Praktik tersebut membantu menjaga kesuburan tanah, meningkatkan daya serap air, serta mengurangi emisi karbon dari pembakaran jerami.
Komunitas Brenjonk saat ini memiliki 109 anggota dengan sekitar 20 persen di antaranya merupakan petani muda. Regenerasi petani dilakukan melalui kaderisasi dan pengembangan usaha turunan seperti kuliner berbasis hasil pertanian organik agar anak muda tetap tertarik bekerja di desa.

