Jumat, Mei 22, 2026
No menu items!

BI Surabaya Dorong Desa Wisata Ketapanrame Naik Kelas, Jadi Inspirasi Pengembangan Desa Wisata di Balikpapan hingga Paser

Mojokerto , Satu Indonesia — Desa Wisata Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, terus menunjukkan transformasi sebagai desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Melalui dukungan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI) Surabaya, desa ini berhasil mengembangkan ekosistem wisata dan UMKM yang memberi dampak nyata bagi ekonomi warga.

Salah satu destinasi unggulan yang menjadi magnet wisata adalah Wisata Sawah Sumber Gempong. Lokasi ini menawarkan beragam wahana permainan seperti kereta sawah, jantra, sepeda terbang, becak terbang, bebek air, ATV, kuda tunggang, hingga paket outbound yang menarik wisatawan keluarga maupun rombongan edukasi.

Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin, mengatakan pengembangan desa wisata tidak hanya bertumpu pada pembangunan destinasi, tetapi juga penguatan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan aset desa dan partisipasi warga.

“Sebelum tahun 2010, ekonomi masyarakat desa kami kurang bagus, tingkat pendidikan dan kesehatan juga masih rendah, sehingga potensi desa belum banyak memberikan manfaat bagi warga,” ujar Zainul Arifin, Kamis (22/5/2026).

Menurutnya, salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menyerahkan pengelolaan aset desa kepada BUMDes agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas, termasuk pengembangan wisata, pengelolaan sampah, peternakan komunal, hingga penyediaan air bersih.

Model pembangunan tersebut kemudian diperkuat dengan program investasi “urun dana” yang melibatkan masyarakat desa sebagai investor lokal. Warga dapat membeli slot investasi untuk pembangunan wahana wisata dan memperoleh pembagian hasil usaha setiap bulan.

Dukungan BI Surabaya turut mempercepat pengembangan ekosistem wisata dan UMKM di Ketapanrame. Pendampingan tidak hanya difokuskan pada sektor wisata, tetapi juga pengembangan kopi unggulan desa dari hulu hingga hilir.

“BI hadir mendampingi kami mulai dari penanaman, perawatan, pengolahan sampai pemasaran kopi. Bahkan mendatangkan buyer dari luar negeri untuk melihat produk kami,” katanya.

Pendampingan BI juga mencakup fasilitasi legalitas usaha, sertifikasi halal berstandar internasional, pembentukan badan usaha berbentuk perseroan, hingga promosi melalui pameran dan festival. Dampaknya, produk kopi dan olahan UMKM Ketapanrame mulai dikenal lebih luas hingga menembus pasar luar negeri.

Selain itu, keberhasilan Ketapanrame juga ditopang sinergi pemerintah daerah, kementerian, media, serta partisipasi aktif masyarakat desa. Desa ini bahkan meraih predikat Desa Wisata Terbaik Nasional tahun 2023 dan BUMDes terbaik nasional kategori bermanfaat.

Zainul menilai, pola pengembangan yang dilakukan Ketapanrame dapat menjadi contoh bagi daerah lain, termasuk Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser di Kalimantan Timur.

“Yang paling penting bukan hanya membangun wisata, tetapi membangun ekosistem dan melibatkan masyarakat agar manfaat ekonominya bisa dirasakan bersama,” tegasnya.

Konsep pengembangan desa wisata berbasis aset desa, penguatan BUMDes, investasi masyarakat, serta pendampingan berkelanjutan dari lembaga seperti BI dinilai menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah yang memiliki potensi wisata dan UMKM lokal.

TERPOPULER

TERKINI