Selasa, Juni 2, 2026
No menu items!

Menuju Panggung Dunia, Kemenbud Siap Daftarkan Seni Ukir Jepara Ke WBTB UNESCO

Jepara, Satu Indonesia – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) berencana untuk mendaftarkan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke UNESCO.

Saat mengunjungi Sanggar Seni Ukir Kayu, Senenan, Jepara, Jawa Tengah, pada Sabtu (15/11/2025), Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, mengatakan karya ukir Jepara tidak lagi sekedar kerajinan melainkan karya seni bernilai tinggi. 

Sembari meninjau langsung proses persiapan karya seni yang akan ditampilkan dalam Pameran Tatah 2026, Menbud menginginkan karya ukir Jepara benar-benar menjadi karya seni. 

“Di sini kita bisa lihat karya-karya ukir Jepara mendapatkan apresiasi yang tinggi,” ujarnya melalui keterangan pers, Minggu (16/11/2025).

Menbud juga menekankan pentingnya hilirisasi agar karya ukir Jepara memasuki ranah seni rupa dengan nilai apresiasi besar. Salah satunya ialah melalui Pameran Tatah 2026 sebagai momentum penampilan karya seni ukir yang mengedepankan nilai artistik. 

Pameran ini diharapkan menjadi wadah strategis untuk menampilkan kualitas terbaik ukiran Jepara dalam konteks seni rupa. Ini sekaligus memperkenalkan warisan budaya tersebut kepada publik nasional dan internasional.

Menurut Menbud, kegiatan dipersiapkan sebagai ajang eksebisi seni ukir, bukan sekadar pameran kerajinan. Selain mengedepankan standar artistik dan imajinasi, kurasinya pun akan mengedepankan nilai seni yang lebih tinggi. 

“Ada karya yang dikerjakan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebagai ekspresi seni luar biasa dari para pengrajinnya,” ucapnya.

Kemenbud menegaskan dukungan terhadap pelestarian dan pengembangan seni ukir Jepara sebagai salah satu kekuatan budaya bangsa. Seni ini mengandung nilai sejarah, artistik, dan ekonomi yang penting bagi keberlanjutan kebudayaan nasional. Ke depannya, ukiran Jepara akan terus didorong menjadi karya seni, bukan hanya produk kerajinan massal.  

Sementara itu, Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, menyaksikan Pelatihan Seni Budaya Ukir Kayu Jepara bagi anak usia 10–12 tahun. Hal tersebut dinilai penting agar tradisi ukir Jepara tetap terjaga dan terus berkembang melalui generasi baru. Ia berharap lahirnya generasi baru pengrajin dengan keterampilan dan pemahaman budaya yang mumpuni.

“Pelatihan ini penting sekali dilakukan agar tradisi ukir Jepara tetap terjaga,” ujarnya.

TERPOPULER

TERKINI

Mual Saat Minum Air Putih? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Samarinda, Satu Indonesia – Minum air putih merupakan kebiasaan sehat yang penting untuk menjaga hidrasi serta mendukung fungsi tubuh tetap optimal. Namun, dalam kondisi...