Kyiv, Satu Indonesia – Pemerintah Ukraina mengumumkan bahwa lebih dari 30 orang akibat serangan udara Rusia di kota Sumy, Ukraina.
Dilansir dari Anadolu pada Senin (14/4/2025), kawasan ini berada di timur laut kota Suny atau sekitar 31 kilometer (19,2 mil) dari perbatasan Rusia.
Layanan Darurat Negara melalui pernyataanya di Telegram mengatakan jumlah korban tewas selama serangan itu meningkat menjadi 32 orang, termasuk dua anak-anak, hingga pukul 14.10 (11.10GMT) waktu setempat.
Laporan terakhir dari layanan tersebut melaporkan hingga pukul 15:35 siang (1235GMT), jumlah korban terluka meningkat menjadi 99 orang, termasuk 11 anak-anak, dan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi kejadian masih terus berlanjut.
“Pada hari Minggu Palem yang cerah ini, masyarakat kita mengalami tragedi yang mengerikan. Musuh melancarkan serangan rudal terhadap warga sipil. Sayangnya, lebih dari 20 orang terbunuh,” kata Wali Kota Sumy Artem Kobzar di Telegram, menyebutkan hari istimewa bagi umat Kristen menjelang Paskah.
Dewan Kota Sumy kemudian mengumumkan bahwa tiga hari berkabung telah ditetapkan di wilayah timur laut mulai hari Senin.
Dalam dua pernyataan terpisah di platform X, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta dunia untuk “tidak tinggal diam atau acuh tak acuh tak acuh” terhadap serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa serangan semacam itu pantas “tidak lain hanyalah kecaman.”
Ia juga menegaskan kembali perlunya menekan Rusia lebih lanjut, serta memberikan jaminan keamanan bagi Ukraina.
Zelensky mengklaim bahwa jika tidak ada tekanan dan dukungan yang cukup bagi Ukraina, Moskow akan terus berlarut-larut dalam konflik ini.
“Sayangnya, di Moskow mereka yakin dapat terus membunuh tanpa hukuman. Tindakan yang diperlukan untuk mengubah situasi ini,” katanya.
Sementara Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan pada X bahwa Rusia menolak menerima usulan AS untuk gencatan senjata penuh selama dua bulan berturut-turut, meskipun Kyiv menerima usulan tersebut tanpa syarat pada 11 Maret.
“Sebaliknya, Rusia meningkatkan terornya. Kami mendesak mitra untuk memberi Ukraina kemampuan pertahanan udara tambahan dan meningkatkan tekanan di Moskow,” kata Sybiha, dengan alasan bahwa kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dapat dipahami Moskow.
Intelijen Pertahanan Ukraina mengklaim bahwa serangan terhadap kota Sumy dilakukan dengan menggunakan dua rudal balistik Iskander-M yang diluncurkan masing-masing dari wilayah Voronezh dan Kursk Rusia.
Pihak yang berwenang Rusia belum segera berkomentar serangan atau klaim tersebut.
Redaksi

