Samarinda, Satu Indonesia – Siapa tidak kenal madu? Tekstur cairnya yang kental dengan rasa yang sangat manis, membuatnya sering menjadi pilihan sebagai pemanis alami pada minuman ataupun makanan yang kita konsumsi.
Madu memiliki banyak manfaat, mulai dari menjadi sumber energi, memperkuat kekebalan tubuh, meredakan batuk, membantu pencernaan hingga membantu percepat penyembuhan luka.
Madu mengandung sekitar 80-85% karbohidrat, 15-17% air, 0,3% protein, serta sejumlah asam amino dan vitamin.
Namun, selama ini begitu banyak mitos soal keaslian madu yang membuat sebagian masyarakat kesulitan untuk memilih madu.
Banyaknya varian madu di pasaran terkadang membuat kita bingung untuk membedakan mana yang asli dan yang palsu.
Melansir CNN Indonesia, berikut fakta di balik empat mitos mengenai keaslian madu yang banyak beredar di masyarakat!
Mitos 1: Madu asli tidak akan berubah warna
Perubahan warna pada madu adalah hal yang biasa. Hal tersebut disebabkan adanya reaksi Maillard atau reaksi pencoklatan non enzimatis yang justru bisa meningkatkan kadar antioksidan dalam madu.
Seperti diketahui, antioksidan bermanfaat sebagai penangkal radikal bebas yang bisa memicu serangan jantung, kanker, katarak, dan menurunnya fungsi ginjal.
“Dengan begitu bisa dipastikan bahwa mitos mengenai madu asli tidak akan berubah warna adalah salah,” kata Dewi Masyithoh, Owner & Komisaris Kembang Joyo Group.
Ahli gizi sekaligus Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) Approved Educator, Irtya Qiyamulail juga berkata bahwa warna madu tidak berpengaruh pada keaslian madu.
“Warna pada madu dipengaruhi oleh viskositas dan kadar airnya. Warna madu tidak berpengaruh pada keaslian madu, tetapi terhadap mutu madu tersebut. Warna dan rasa madu dipengaruhi oleh umur simpan dan sumber nektar,” katanya dalam keterangan terpisah.
Mitos 2: Madu asli tidak disukai semut
Mitos yang satu ini juga tidaklah tepat, yang mana madu asli tidak akan pernah dikerubungi oleh semut.
“Baik madu asli maupun madu tidak asli sebenarnya sama-sama dikerubungi semut,” kata Irtya Qiyamulail.
Ahli gizi sekaligus Edukator Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) tersebut menyatakan bahwa tingkat rasa manis atau pahitnya madu bergantung dari sumber makanan lebah atau nektarnya.
Selain itu, seberapa cepat madu menarik perhatian semut juga bergantung dari beberapa faktor antara lain kadar air, kelembapan lingkungan dan lokasi penyimpanan madu.
“Kandungan air yang lebih banyak pada madu akan menyebabkan madu tidak terlalu lengket, hal ini menyebabkan lebih banyak molekul udara dan aroma yang dilepaskan melalui penguapan sehingga lebih mudah menarik semut,” paparnya.
“Ketika lingkungan lembap, serangga akan lebih mudah menangkap bau sehingga semut akan lebih mudah tertarik.”
Sementara itu menurut Dewi Masyithoh, Owner & Komisaris Kembang Joyo Group, umumnya semut menyukai madu, bahkan sejak masih berbentuk nektar yang baru keluar dari ujung tanaman.
Saking menyukainya, lebah dan semut sering berebut untuk mengambil nektar. Meskipun begitu, ada beberapa kondisi madu yang tidak disukai oleh semut, salah satunya madu yang belum cukup umur.
Madu yang belum cukup umur akan mengakibatkan terjadinya fermentasi yang mana akan menghasilkan karbondioksida yang tidak disukai semut.
“Kesimpulannya, semut akan menyukai madu yang sudah cukup umur panen dan tidak menyukai madu yang mengalami fermentasi,” tambah Dewi.
Mitos 3: Madu yang mengkristal tanda madu palsu
Kristalisasi madu sering salah diartikan masyarakat sebagai pemalsuan madu. Padahal, kristalisasi atau penggumpalan madu merupakan hal lumrah yang terjadi secara alami dan spontan pada madu.
Menurut Irtya, proses kristalisasi yang terjadi pada madu bergantung juga pada rasio fruktosa dan glukosa.
“Semakin tinggi kandungan fruktosa yang ada dalam madu (yang biasanya konsistensi madu tidak kental) maka kemungkinan kecil madu tersebut akan mengalami proses kristalisasi, bergitupun sebaliknya,” katanya.
Dia menambahkan, kadar glukosa yang tinggi menyebabkan madu mudah untuk mengkrostal dikarenakan glukosa memiliki tingkat kelarutan yang lebih rendah dibandingkan fruktosa.
Mitos 4: Madu asli bisa meletup
“Meletup atau tidaknya madu didalam botol pada saat dibuka tidak bisa menjadi jaminan keaslian madu tersebut,” ujar Irtya.
Madu berasal dari cairan tanaman yang dikumpulkan oleh lebah. Secara alamiah, madu mengandung sel ragi (khamir). Sel ragi ini akan lebih mudah mengalami proses fermentasi pada madu dengan kadar air yang tinggi.
“Hasil dari fermentasi ini adalah karbondioksida (CO2) yang berbentuk gas. Gas yang terakumulasi inilah yang menyebabkan letupan pada botol yang tertutup rapat,” paparnya lebih lanjut.

