satuindonesia.co.id, Penajam – Wilayah Penajam Paser Utara (PPU) memiliki beragam warisan budaya yang sangat berharga dan memiliki karaktersitik yang unik.
Salah satu yang paling besar adalah ritual Belian Paser Nondoi yang digelar setiap tahun, dan turut mendapat dukungan berbagai pihak termasuk Pemerintah Kabupaten PPU.
Nondoi merupakan upacara adat yang dilakukan secara turun-temurun, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat suku Paser yang ada di PPU.
Melalui Pemerintah Daerah, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) PPU, yang diwakili Kabid Kebudayaan, Christian Nur Selamat mengatakan, bahwa ritual Nondoi yang secara harfiah berarti ‘membersihkan’, merupakan sebuah ritual suci yang bertujuan untuk membersihkan kampung dari segala hal negatif, baik secara fisik maupun spiritual.
“Masyarakat Paser percaya, bahwa dengan melaksanakan ritual ini, mereka akan terhindar dari segala macam malapetaka dan hidup dalam kedamaian serta kesejahteraan,” ujarnya Sabtu (19/10/2024).
Selain membersihkan lingkungan secara fisik, ritual Nondoi juga memiliki makna yang lebih dalam. Upacara ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan para roh nenek moyang yang diyakini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Paser.
“Dengan melakukan Nondoi, mereka berharap mendapatkan berkah dan perlindungan dari para leluhur,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, Nondoi juga berfungsi sebagai perekat tali persaudaraan antar para pemimpin negeri dan rakyat. Oleh sebab itu, melalui ritual ini masyarakat etnik Paser PPU dapat saling berinteraksi, bergotong royong, dan memperkuat rasa kebersamaan.
Ritual Nondoi biasanya berlangsung selama enam hari, dan dibalut berbagai rangkaian acara yang memiliki syarat dan makna.
Dimulai dengan upacara pembukaan yang melibatkan tokoh adat, pejabat dan masyarakat kemudian dilanjutkan dengan prosesi arak-arakan yang meriah, dan terakhir adalah prosesi larung jakit.
“Selama acara, berbagai pertunjukan seni dan budaya khas Paser akan digelar, seperti tarian, musik, dan permainan tradisional. Ritual ditutup dengan upacara penutupan yang khidmat,” tambahnya.
Dibalik keindahan dan kemeriahannya, ritual Nondoi mengandung nilai-nilai luhur yang patut diapresiasi. Gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan pelestarian lingkungan adalah beberapa di antaranya. Ritual ini juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Ritual Nondoi merupakan warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat Paser. Oleh karena itu, upaya pelestarian dan pengembangan ritual ini perlu terus dilakukan. Dalam beberapa tahun terakhir, ritual Nondoi telah dikembangkan menjadi sebuah festival budaya yang lebih besar, menarik minat tidak hanya masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah.
“Ritual Nondoi Adat Paser adalah lebih dari sekadar upacara adat. Ini adalah cerminan dari nilai-nilai luhur, identitas budaya, dan kekayaan spiritual masyarakat Paser. Dengan memahami dan melestarikan ritual ini, kita turut menjaga kelangsungan hidup budaya bangsa,” pungkasnya. (ADV/PPU)
(Din/SD)

