Jakarta, Satu Indonesia – 5.700 lebih pelajar Timor-Leste menempuh pendidikan tinggi di Indonesia. Dimana berbagai kolaborasi antarkampus juga telah dilakukan oleh perguruan tinggi Indonesia dan Timor Leste, yaitu mencakup kemitraan antaruniversitas (University to University/U2U), penelitian bersama, hingga pertukaran dosen dan mahasiswa.
Capaian ini diklaim sebagai cermin eratnya hubungan kerja sama pendidikan kedua negara yang terus dikembangkan melalui berbagai skema beasiswa dan kemitraan perguruan tinggi. Dimana Perguruan Tinggi memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, terutama dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjawab tantangan masyarakat.
Peran tersebut juga dapat diperkuat melalui kerja sama internasional di bidang pendidikan tinggi, penelitian, dan pengembangan kapasitas, sehingga kolaborasi antarnegara menghasilkan manfaat yang lebih luas.
Kerja sama tersebut juga menjadi bagian dari upaya Timor-Leste untuk memperkuat kapasitas SDM melalui pendidikan tinggi di Indonesia, sejalan dengan kebutuhan pengembangan SDM dan penguatan institusi pendidikan tinggi di negara tersebut.

Dalam keterangan resmi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan menegaskan bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari berjanji dalam meningkatkan kualitas pembangunan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Posisi kampus tidak bisa dilihat secara parsial dalam konteks pembangunan satu negara, tetapi kampus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kualitas pembangunan bangsa,” kata Wamen Fauzan dalam pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri (Waperdam) Timor Leste, Mariano Assanami Sabino Lopes di kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta, Senin (26/10/2026).
Dimana pertemuan ini membahas pengembangan SDM, penelitian bersama, pertukaran pelajar, dan peningkatan kapasitas perguruan tinggi kedua negara. Kedua pihak membahas peluang penelitian bersama di bidang kesehatan, perikanan, dan keanekaragaman hayati. Potensi tersebut mencakup penelitian mengenai penyakit, sumber daya perairan, serta spesies lokal yang dapat dikaji untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan menjawab kebutuhan pembangunan kedua negara.
Wamendiktisaintek juga menekankan bahwa penelitian perguruan tinggi perlu menghasilkan manfaat nyata, dan menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat. Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi ilmiah atau memberikan persyaratan kenaikan jabatan akademik.
“Riset pun adalah penelitian yang harus berdampak. Jangan hanya berhenti sampai dengan jurnal. Jangan hanya penelitian yang ingin digunakan untuk meningkatkan kepangkatan, teetapi penelitian yang dapat memberikan kontribusi nyata terhadap kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Waperdam Mariano menyampaikan bahwa kedekatan budaya, hubungan persaudaraan, dan bahasa menjadi pertimbangan Timor Leste dalam mengembangkan kerja sama pendidikan dengan Indonesia. Kesamaan tersebut dinilai mempermudah komunikasi dan pertukaran pengetahuan dalam pengembangan sumber daya manusia.
“Kita berharap bahwa untuk masuk standarnya sama, kita lebih fokus kerja sama lebih banyak dengan Indonesia karena masalah kultur, masalah persaudaraan, dan juga masalah bahasa yang lebih mudah untuk bisa komunikasi. Jadi, pembangunan human resource ini kita fokusnya lebih ke Indonesia,” ujar Waperdam Timor Leste, Mariano.
Selain penelitian, pertemuan tersebut membahas peningkatan kapasitas dosen, pengembangan karir akademik, dan pertukaran mahasiswa. Kedua pihak juga menjelaskan administrasi siswa asing, termasuk visa dan izin tinggal untuk keperluan pendidikan.
Pembahasan juga mencakup pembaruan nota kesepahaman bidang pendidikan tinggi antara Indonesia dan Timor-Leste yang dijadwalkan berakhir pada tahun 2027. Pengembangan kerja sama ini menjadi salah satu agenda untuk melanjutkan hubungan pendidikan tinggi kedua negara, termasuk dalam konteks keanggotaan Timor Leste di ASEAN.
Redaksi

