Senin, September 21, 2026
No menu items!

Kepala BGN Tegaskan MBG Jangan Dibagikan Jika Bau hingga Ompreng Tak Berlabel

Jakarta, Satu Indonesia – Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menegaskan bahwa keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam Kick Off Webinar Literasi bagi Kepala Sekolah pada Selasa (15/9/2026), Sudaryono meminta kepala sekolah dan guru untuk tegas menghentikan pembagian makanan apabila ditemukan ketidaksesuaian, khususnya terkait label waktu pada setiap wadah makanan.

“Kalau makan itu diterima oleh sekolah tidak ada labelnya di setiap omprengnya, itu saya minta untuk tidak dibagikan, ditolak. Jadi minta untuk dapurnya memberikan label di setiap omprengnya,” tegasnya dari Jakarta.

Dirinya juga meminta agar label mencantumkan waktu secara spesifik, bukan sekadar keterangan seperti satu atau dua jam setelah diterima. Menurutnya, informasi waktu tersebut penting untuk memastikan makanan dikonsumsi dalam batas waktu yang aman.

“Bukan satu-dua jam setelah diterima. Karena satu-dua jam setelah diterima itu nggak jelas jamnya berapa. Jadi sebenarnya ini kayak semacam expiration date,” tambah Kepala BGN.

Ia juga meluruskan bahwa peran guru bukan mencicipi makanan untuk memastikan ada atau tidaknya risiko keracunan, melainkan ikut makan MBG bersama peserta didik sebagai sarana edukasi sekaligus memastikan kondisi makanan sebelum dikonsumsi.

“Sebenarnya bukan guru ikut mencicipi, tapi guru ikut makan MBGnya itu bersama dengan siswa-siswinya yang ada di kelas. Maka sebelum dimakan tentu saja dicek, apakah bau, apakah ada kemungkinan basi, apakah omprengnya ada labelnya, apakah waktunya sudah melewati batas-batas waktunya, dan lain sebagainya. Mana kalau dirasa tidak aman, maka guru kemudian kami minta untuk di-stop. Jadi enggak boleh dimakan,” lanjutnya.

Ia menegaskan BGN tidak akan memberikan toleransi terhadap dapur MBG yang tidak memenuhi standar keamanan pangan.

“Manakala ada dapur milik siapa pun, saya nggak peduli. Manakala dia tidak sesuai dengan standar yang kita tetapkan, saya pastikan dapur itu ditutup. Jadi saya tidak main-main di urusan ini,” tegasnya.

Ia menuturkan pembenahan terhadap dapur MBG terus dilakukan, termasuk menutup dapur yang tidak sesuai, memberhentikan tenaga yang tidak memenuhi ketentuan, serta menetapkan standar baru yang lebih tinggi dari sisi keamanan pangan. Karena itu, pihaknya meminta kepala sekolah dan guru aktif memberikan feedback apabila menemukan persoalan dalam layanan MBG, termasuk masalah label maupun menu.

“Bapak-Ibu guru boleh protes ke SPPG-nya, tapi di-CC itu ditembuskan ke saya. Ada emailnya, sampaikan saja. Nggak perlu takut,” tukasnya.

Redaksi

TERPOPULER

TERKINI

TNI Raih Empat Rekor MURI Jelang HUT ke-81

Jakarta, Satu Indonesia - Tentara Nasional Indonesia (TNI) mencatatkan empat Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dari berbagai kegiatan yang digelar dalam rangkaian peringatan...