Rabu, September 16, 2026
No menu items!

BMKG Sebut Gempa Flores Masuk Fase Peluruhan, Begini Penjelasannya!

Jakarta, Satu Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatolog, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa aktivitas gempa susulan pascagempa bumi Flores M7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu kini telah memasuki fase peluruhan secara signifikan.

Atas fase tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tenang, serta terus memantau informasi resmi saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak mulai berjalan.

Dalam Konferensi Pers Pemuktahiran Pascagempa Flores M7,7, Plh. Deputi Bidang Geofisika, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa hingga 30 hari pascagempa utama (15 September 2026 pukul 05.00 WIB), BMKG mencatat 15.722 gempa susulan berkekuatan M0,9 hingga M6,2, di mana 190 kejadian di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

“Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis data gempa terkini, frekuensi gempa susulan harian maupun mingguan menunjukkan pola penurunan dan telah memasuki fase peluruhan,” kata Ardhasena, di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Lebih lanjut, pada grafik gempa susulan mingguan, terlihat jelas pola peluruhan atau frekuensi gempa semakin menurun tiap minggunya. Jumlah minggu ke-1 tercatat 5011 kejadian, minggu ke-2 tercatat 4267 kejadian, minggu ke-3 tercatat 3158 kejadian, minggu ke-4 tercatat 2421 kejadian, dan minggu ke-5 sementara tercatat 864 kejadian.

Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami, Wijayanto, menjelaskan secara umum kejadian gempa susulan terbagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, gempa M≥5,0 (26 kejadian atau 0,2%) dirasakan cukup luas dan berpotensi berdampak pada bangunan rentan. Gempa kategori ini semakin jarang dan tidak tercatat lagi dalam satu minggu terakhir.

Terjadi tsunami 136 meter dan 60 meter

Tsunami melanda sejumlah wilayah dan merusak 23 rumah, termasuk dua rumah yang tersapu tsunami di Desa Selama. Tsunami juga menerjang rumah warga di Dusun Nampar, Desa Tadho, dan Desa Nangadero. Meski menimbulkan kerusakan, tidak ada korban jiwa akibat tsunami karena masyarakat segera melakukan evakuasi setelah menerima Peringatan Dini Tsunami.

“Selain mengumpulkan data teknis, BMKG juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada tokoh masyarakat, pemuka agama, serta warga di titik-titik pengungsian,” jelasnya.

Kepala Pusat Standardisasi Instrumentasi MKG, Rahmat Triyono, menegaskan bahwa waktu kedatangan tsunami bisa sangat cepat, khususnya di wilayah Flores Back-Arc Thrust. Hal ini perlu menjadi perhatian karena peringatan dini BMKG bisa secara beriringan dikeluarkan pada saat gelombang tsunami tersebut tiba ke daratan.

“Sebaik-baiknya peringatan dini adalah kesadaran masyarakat untuk merespons potensi tsunami. Maka, penting untuk membangun kesadaran masyarakat di wilayah pesisir utara NTT untuk melakukan evakuasi mandiri,” pungkas Rahmat.

BMKG menekankan bahwa seluruh data pemantauan dan hasil survei ini menjadi masukan teknis penting bagi pemerintah dalam merealisasikan rehabilitasi dan rekonstruksi secara aman dan berkelanjutan. BMKG terus memantau aktivitas kegempaan selama 24/7 dan berkoordinasi erat dengan BNPB, pemda, BPBD, serta pemangku kepentingan terkait. Masyarakat diimbau untuk tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan selalu mengikuti kanal informasi resmi BMKG.

Redaksi

TERPOPULER

TERKINI

KPK Tangkap Tangan Dugaan Suap Rp106,3 miliar di ATR/BPN Terkait Buka Blokir dan HGB

Jakarta, Satu Indonesia - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penangkapan terhadap 8 (delapan) orang tersangka yang tertangkap tangan di kawasan Jabodetabek pada Senin (14/9/2026).Juru...