Minggu, Agustus 16, 2026
No menu items!

Mengejar Kulit Sehat di Tengah Gemerlap Tren Skincare

Ilustrasi produk skincare yang beredar dikalangan masyarakat.

PASER, Satu Indonesia – Skincare kini bukan lagi sekadar rutinitas merawat wajah. Di tengah media sosial yang dipenuhi video skincare routine, ulasan produk, hingga tren glass skin, perawatan kulit perlahan menjadi bagian dari gaya hidup remaja. Berbagai produk hadir dengan kemasan menarik dan klaim yang beragam, membuat keinginan memiliki kulit sehat dan glowing semakin mudah ditemukan dalam keseharian.

Namun, di balik gemerlap tren tersebut, muncul satu pertanyaan sederhana: apakah semua yang sedang populer benar-benar dibutuhkan oleh kulit?

Mengikuti tren skincare sebenarnya tidak selalu buruk. Popularitas perawatan kulit dapat membuat remaja lebih sadar untuk menjaga kesehatan kulit. Persoalan muncul ketika tren membuat seseorang merasa harus menggunakan banyak produk untuk mendapatkan hasil tertentu. Padahal, kondisi kulit setiap orang berbeda sehingga produk yang cocok bagi satu orang belum tentu memberikan hasil yang sama bagi orang lain.

Hal tersebut menjadi perhatian dr. I Nyoman John Risnawan dalam dialog RRI Singaraja bertajuk “Smart Skincare untuk Remaja, Bukan Skincare Mahal” pada Juni 2026. Dokter John menekankan bahwa perawatan kulit tidak perlu berlebihan atau mengikuti semua produk yang sedang populer. Menurutnya, memahami kondisi dan kebutuhan kulit jauh lebih penting daripada banyaknya produk yang digunakan. Penggunaan berbagai produk tanpa kebutuhan yang jelas juga dapat mengganggu skin barrier, yaitu lapisan pelindung alami kulit.

Pada masa remaja, kebutuhan tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan. Perubahan hormon saat pubertas dapat meningkatkan produksi minyak sehingga kulit lebih mudah mengalami komedo dan jerawat. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa perubahan hormonal merupakan salah satu faktor yang berperan dalam munculnya jerawat pada remaja. Karena itu, perawatan kulit perlu dilakukan secara seimbang dan tidak berlebihan.

Banyaknya produk di pasaran terkadang membuat skincare terlihat seperti rutinitas yang harus dilakukan dalam banyak tahap. Padahal, perawatan dasar tidak harus serumit itu. Dokter Spesialis Dermatovenerologi Estetika RSUD Ibu Fatmawati Soekarno, dr. Ambar Ali Wardani, Sp.DVE, menjelaskan bahwa prinsip perawatan kulit adalah less is better. Ia menyebut tiga dasar yang perlu diperhatikan, yaitu cleansing, moisturizing, dan protecting.

Prinsip tersebut dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana. Cleansing yaitu dengan wajah dapat dibersihkan secara teratur dengan pembersih yang lembut, kemudian Moisturizing yakni menggunakan pelembap sesuai kebutuhan kulit. Serta Protecting yaitu melakukan perlindungan dari sinar matahari juga penting, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Kementerian Kesehatan pun mengingatkan bahwa membersihkan wajah secara berlebihan justru dapat membuat kulit kering dan mengganggu lapisan pelindungnya.

Jika ingin mencoba produk tambahan, pilih berdasarkan kebutuhan kulit, bukan hanya karena sedang viral. Mengenali kondisi kulit juga membantu menghindari kebiasaan mengganti-ganti produk secara berlebihan. Jika masalah kulit terasa berat atau tidak kunjung membaik, pemeriksaan kepada dokter kulit dapat menjadi pilihan yang lebih tepat daripada terus mencoba berbagai produk sendiri.

Di tengah gemerlap tren skincare, merawat kulit bukan tentang memiliki produk paling banyak atau mengikuti setiap tren yang muncul. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan kulit, memilih perawatan yang sesuai, dan menjadikannya kebiasaan yang konsisten. Sebab, mengejar kulit sehat tidak harus selalu berarti mengejar apa yang sedang tren.

TERPOPULER

TERKINI

Sejuk Minggu Pagi dan Riuh CFD di Hutan Kota Paser

Teras UMKM Kabupaten Paser menjadi salah satu pilihan pengunjung untuk berburu kuliner di tengah ramainya CFD Minggu pagi. Dok. Satu Indonesia/SalmaaTANAH GROGOT, Satu Indonesia...