Selasa, April 21, 2026
No menu items!

Topside Proyek Manpatu Berlayar ke Balikpapan, Langkah Strategis PHM Perkuat Produksi Migas Nasional

Satu Indonesia, Tanjung Pinang – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menandai capaian penting dalam pengembangan Lapangan Migas Manpatu melalui proses load out dan sail away topside di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, 17 April 2026.

Tahapan ini menjadi bagian krusial dari proyek yang ditargetkan mulai berproduksi (onstream) pada kuartal I 2027, dengan pengeboran perdana direncanakan pada kuartal IV 2026.

Proses load out dan sail away topside merupakan kelanjutan dari pengiriman struktur jacket yang telah dilakukan sebelumnya pada 8 April 2026. Tahap ini dikenal sebagai operasi berisiko tinggi yang membutuhkan presisi dan koordinasi teknis yang ketat.

Topside dengan bobot sekitar 1.000 ton tersebut diangkut menggunakan kapal tongkang dan akan menempuh perjalanan sekitar 1.930 kilometer menuju lokasi proyek di lepas pantai Balikpapan, dengan estimasi waktu tempuh sekitar 15 hari.

Struktur topside sendiri merupakan bagian vital dari anjungan lepas pantai yang berfungsi sebagai pusat pemrosesan, pengeboran, sistem kontrol, utilitas, hingga akomodasi pekerja.

Sejumlah pemangku kepentingan turut hadir dalam seremoni tersebut, termasuk Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, perwakilan SKK Migas, serta jajaran pemerintah daerah dan manajemen PHM.

Seno Aji menilai proyek ini memiliki kontribusi signifikan dalam menjaga tingkat produksi migas di Kalimantan Timur sekaligus membuka peluang kerja bagi tenaga lokal.

“Di saat banyak pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh beberapa perusahaan Kalimantan Timur, PHM memberikan kontribusi yang sangat berarti untuk penyerapan tenaga kerja terampil dari Kalimantan Timur melalui kontraktor PT Meindo Elang Indah yang mengerjakan Proyek Manpatu,” tutur Seno.

Sementara itu, General Manager PHM Setyo Sapto Edi menegaskan bahwa capaian ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak yang terlibat dalam proyek.

“Penyelesaian tahap fabrikasi Topside ini merupakan wujud kerja keras dan hasil kolaborasi yang solid seluruh tim yang didukung oleh berbagai pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa proyek Manpatu menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam menjaga keberlanjutan investasi dan meningkatkan produksi migas nasional di tengah tantangan lapangan yang semakin matang (mature).

Secara teknis, proyek ini mencakup pembangunan satu anjungan baru lengkap dengan jacket dan piles, instalasi topside, serta modifikasi anjungan eksisting. Selain itu, proyek juga melibatkan pemasangan pipa bawah laut sepanjang sekitar 2,5 kilometer dan pengeboran 11 sumur pengembangan.

Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia, Sunaryanto, dalam kesempatan terpisah menekankan pentingnya proyek ini bagi ketahanan energi nasional.

“Proyek Pengembangan Manpatu ini bukan hanya tentang menambah produksi, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan energi dan memperkuat ketahanan energi nasional secara berkelanjutan khususnya dari wilayah Kalimantan. Keberhasilan di proyek ini membuktikan bahwa kita mampu menghadapi tantangan industri melalui kolaborasi, inovasi, dan komitmen yang kuat,” ungkap Anto, sapaan akrab Sunaryanto.

Selain aspek produksi, perusahaan juga menekankan pentingnya keselamatan kerja. Hingga Maret 2026, proyek ini mencatat lebih dari dua juta jam kerja tanpa kehilangan waktu kerja akibat kecelakaan (Lost Time Incident).

Capaian tersebut dinilai mencerminkan kesiapan perusahaan dalam menjalankan proyek secara aman, cepat, dan terintegrasi.

Dengan progres yang terus berjalan, proyek Manpatu diharapkan mampu menjadi salah satu penopang utama produksi gas dan kondensat nasional, sekaligus memperkuat peran Kalimantan sebagai salah satu lumbung energi Indonesia.

TERPOPULER

TERKINI