Senin, April 20, 2026
No menu items!

HIV di Samarinda: Angka Kasus Naik, Kesadaran Tes Masih Rendah

Samarinda, Satu Indonesia – Kasus HIV di Kota Samarinda masih menunjukkan tren signifikan dengan dominasi pada kelompok usia produktif. Berdasarkan data tahun 2024, tercatat sebanyak 527 kasus HIV, dengan mayoritas penderita berasal dari kalangan laki-laki.

Dari total tersebut, laki-laki mendominasi dengan 409 kasus atau 77,6 persen, sementara perempuan sebanyak 118 kasus. Kelompok usia 25 hingga 49 tahun menjadi penyumbang terbesar dengan 308 kasus atau 58,4 persen.

Tren tersebut berlanjut pada 2025, dengan total 492 kasus HIV yang terdiri dari 354 laki-laki dan 138 perempuan. Kelompok usia produktif kembali menjadi penyumbang terbanyak dengan 295 kasus.

Sementara itu, pada periode Januari hingga Juni 2025, tercatat 223 kasus HIV, terdiri dari 168 laki-laki dan 55 perempuan. Kondisi ini menunjukkan penularan masih aktif terjadi, terutama di kalangan usia kerja.

Menanggapi hal tersebut, Tim Pakar Komisi IV DPRD Samarinda, Masdar John, menegaskan bahwa penanganan HIV/AIDS tidak dapat dilakukan secara parsial dan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Pemerintah punya kekuatan di kebijakan, akademisi di ilmu pengetahuan, swasta di dukungan pendanaan, masyarakat di sumber daya manusia, dan media di pembentukan opini publik,” ujarnya pada Kamis (16/04/2026).

Ia menjelaskan, pendekatan kolaboratif melalui konsep pentahelix menjadi langkah strategis dalam menekan angka kasus yang masih tinggi di Kota Tepian.

Menurut Masdar, tanpa sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan, berbagai program penanganan HIV/AIDS akan sulit berjalan efektif dan berkelanjutan.

Stigma Jadi Hambatan

Masdar juga menyoroti pentingnya peran media dalam meningkatkan kesadaran masyarakat serta mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV. Stigma dinilai masih menjadi hambatan utama karena membuat sebagian masyarakat enggan melakukan tes.

Baca Juga:  Ngeri! Beginilah Gempa M7.2 di Laut Banda Terekam dari Bawah Laut

“Tes HIV itu langkah awal yang sangat penting. Kalau diketahui lebih cepat, pengobatan bisa segera dilakukan dan penularan bisa dicegah,” katanya.

HIV kerap tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Tanpa pemeriksaan, seseorang bisa tidak menyadari statusnya dalam waktu lama.

“Masih banyak yang takut untuk tes karena khawatir dikucilkan. Padahal, ini justru menghambat penanganan sejak dini,” ujarnya.

Masdar menegaskan, pemeriksaan dini menjadi langkah penting dalam menekan penyebaran HIV. Dengan mengetahui status sejak awal, pengobatan dapat segera dilakukan dan risiko penularan dapat diminimalkan.

“Kalau tidak dilakukan tes, seseorang bisa bertahun-tahun tidak tahu dirinya terinfeksi. Ini yang berbahaya karena berpotensi menularkan ke orang lain,” katanya.

TERPOPULER

TERKINI