Washington, Satu Indonesia – Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, kembali melancarkan kritik pedas kepada Paus Leo XIV, pemimpin tertinggi Vatikan.
Ketegangan ini muncul setelah Sri Paus secara terbuka menegur kebijakan luar negeri Trump, terutama yang berkaitan dengan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Lewat unggahan panjang di platform Truth Social pada Minggu (12/04/2026) malam waktu setempat, Trump merespons kritik tersebut dengan menyebut Paus Leo XIV sebagai sosok yang lemah.
“Dia adalah orang yang LEMAH terhadap kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri” cuit Donald Trump via Truth Social.
Lebih lanjut, Trump bahkan menyebut bahwa Paus asal Amerika tersebut seharusnya yang melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri.
“Seharusnya dia (Leo XIV) segera memperbaiki diri sebagai Paus,” kata Trump.
Tak Terima Dikritik Vatikan
Serangan verbal Trump ini sendiri merupakan respons langsung atas teguran keras Paus Leo XIV sebelumnya.
Sebelumnya pada malam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, Vatikan di hari Rabu (08/04/2026), Paus Leo XIV membuka pidato dengan mengucapkan apresiasinya terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Iran.
“Di tengah memuncaknya ketegangan di Timur Tengah dan seluruh dunia selama beberapa jam terakhir, saya sangat menyambut baik… pengumuman pemberlakuan segera gencatan senjata selama dua minggu,” ujar Paus.
Meski menyambut baik kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu antara AS dan Iran, Paus Leo menilai Trump telah bertindak sembrono. Hal itu diutarakannya dalam kunjungan di Castel Gondolfo, Italia pada Selasa (07/04/2026).
Paus mengatakan kepada awak media, ancaman yang diucapkan Trump adalah hal yang benar-benar tidak bisa diterima.
Sikap tersebut terbilang sangat langka dikeluarkan oleh seorang Paus.
Sebagai pemimpin spiritual bagi sekitar 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia, seorang Paus jarang sekali memberikan teguran atau respons langsung kepada seorang kepala negara.
Pernyataan Paus Leo XIV ini muncul di tengah panasnya eskalasi di Timur Tengah.
Ia menyebut ancaman Trump untuk “menghapus peradaban Iran” sebagai tindakan yang benar-benar tidak bisa diterima.
Sri Paus menyebut jatuhnya banyak korban sipil dan hancurnya stabilitas kawasan akibat perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 sebagai sebuah “skandal kemanusiaan”.
Melansir dari Vatican News, Paus Leo XIV telah berulang kali mengeluarkan seruan “Cease the fire!” (Hentikan peperangan) sejak Maret 2026.
Paus juga mengajak seluruh umat beriman untuk terus berdoa bagi perdamaian abadi, bukan hanya penghentian sementara kekerasan.
Trump Justru Menutup Akses Selat Hormuz
Sayangnya, harapan Paus Leo XIV agar kedua belah pihak menyelesaikan konflik secara permanen lewat meja perundingan tampaknya harus pupus.
Alih-alih mencapai kesepakatan damai, dialog intensif antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, malah berakhir buntu.
Menanggapi kegagalan negosiasi tersebut, Donald Trump tidak membuang waktu dan langsung mengambil langkah eskalatif ekstrem.
Mulai Senin (13/04/2026) waktu setempat, Trump secara resmi memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz.
Blokade militer di jalur maritim paling strategis di dunia itu secara khusus menargetkan kapal-kapal yang menuju atau berasal dari Iran.
Dalam wawancaranya di Fox News “Sunday Morning Futures”, Trump menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran melakukan perdagangan minyak secara selektif demi meraup pundi-pundi uang.
“Kita tidak akan membiarkan Iran menghasilkan uang dari penjualan minyak kepada pihak yang mereka sukai saja. Ini akan menjadi all or none (semua atau tidak sama sekali),” tegas Trump menanggapi buntu-nya negosiasi di Islamabad.
Tak hanya memblokir laju perdagangan, Trump juga menginstruksikan militernya untuk menghancurkan ranjau-ranjau Iran di perairan tersebut dan menebar ancaman akan menghancurkan armada Iran yang berani menyerang kapal AS.
Langkah drastis Trump yang berbanding terbalik dengan seruan damai Vatikan ini tak ayal langsung mengguncang pasar finansial dunia.
Ancaman blokade di Selat Hormuz seketika memicu lonjakan tajam harga minyak mentah global, yang diprediksi akan semakin memperburuk situasi ekonomi dan geopolitik dunia di tengah krisis yang membara.
Harga minyak Brent terpantau naik 8 persen menjadi 102 dolar AS per barel atau sekitar Rp1.743.180.
Kenaikan serupa terjadi pada minyak mentah AS yang menyentuh angka 104 dolar AS per barel atau sekitar Rp1.777.360.
Di tingkat konsumen, harga bensin di AS diprediksi akan terus meroket melampaui rata-rata saat ini yang berada di angka 4,12 dolar AS per galon atau sekitar Rp70.410.

