Minggu, Juli 26, 2026
No menu items!

Anatomi Kecelakaan di Kaltim Terkuak: Motor Dominan, Pola Tabrakan Bergeser

Satu Indonesia, Balikpapan – Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Kalimantan Timur mengungkap pola atau “anatomi” kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan Operasi Ketupat Mahakam 2026. Hasil evaluasi menunjukkan adanya keterkaitan antara jenis kendaraan, profil pelaku, hingga waktu dan lokasi kejadian dalam membentuk tren kecelakaan.

Dirlantas Polda Kaltim Kombes Pol Yanuari Insan melalui KBO Ditlantas Polda Kaltim,  AKBP Feby Febriana, menyampaikan bahwa kendaraan roda dua masih menjadi penyumbang terbesar dalam kecelakaan lalu lintas.

“Sepeda motor masih mendominasi dengan 33 kejadian pada 2026, naik dari 22 kejadian di tahun 2025 atau meningkat 50 persen,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Selain sepeda motor, peningkatan juga terjadi pada kendaraan roda empat. Mobil penumpang mengalami kenaikan signifikan dari 5 menjadi 13 kejadian, sedangkan mobil barang meningkat dari 4 menjadi 8 kejadian. Hal ini menunjukkan bahwa risiko kecelakaan kini semakin meluas pada berbagai jenis kendaraan.

Dari sisi pola tabrakan, kecelakaan depan-depan menjadi yang paling sering terjadi, diikuti tabrakan depan-belakang. Namun, lonjakan paling mencolok terjadi pada tabrakan depan-samping yang meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan adanya perubahan pola kecelakaan yang perlu menjadi perhatian dalam penanganan lalu lintas.

Aspek kelengkapan berkendara juga menjadi bagian dari analisis. Data menunjukkan pelaku kecelakaan didominasi pemegang SIM A, diikuti pengendara tanpa SIM serta pemegang SIM C. Hal ini memperlihatkan bahwa faktor kepatuhan administrasi belum sepenuhnya menjadi jaminan keselamatan di jalan.

Dari segi usia, kelompok produktif menjadi penyumbang terbesar kecelakaan, terutama rentang usia 41 hingga 50 tahun. Bahkan, kelompok usia di atas 60 tahun juga mulai tercatat dalam data kecelakaan tahun ini.

Sementara itu, dari latar belakang pekerjaan, karyawan atau pekerja swasta menjadi kelompok dengan angka kecelakaan tertinggi. Tingginya mobilitas kelompok ini dinilai berkontribusi terhadap peningkatan risiko di jalan.

Lokasi kejadian juga menunjukkan tren peningkatan di kawasan permukiman yang menjadi titik paling rawan. Selain itu, kecelakaan di jalan nasional dan jalan kabupaten/kota juga mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi waktu, kecelakaan paling banyak terjadi pada sore hari, khususnya pada rentang pukul 15.00 hingga 18.00 Wita, diikuti siang hari. Tingginya aktivitas masyarakat pada jam-jam tersebut dinilai menjadi faktor pemicu meningkatnya risiko kecelakaan.

“Ini menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat yang tinggi pada jam tersebut berpengaruh terhadap meningkatnya risiko kecelakaan,” ujar Feby.

Ia menegaskan bahwa pemetaan anatomi kecelakaan ini akan menjadi dasar dalam merumuskan langkah penanganan yang lebih efektif, baik melalui pendekatan preemtif maupun preventif.

“Kami akan fokus pada penanganan berbasis data ini, agar upaya penanggulangan kecelakaan bisa lebih tepat sasaran,” tutupnya.

TERPOPULER

TERKINI

10 Provinsi Penghasil Padi Terbesar Januari-Agustus 2026

Jakarta, Satu Indonesia – Produksi padi Indonesia tersebar di berbagai wilayah, dengan Pulau Jawa masih mendominasi daftar provinsi penghasil padi terbesar. Sepanjang Januari hingga...