Balikpapan, Satu Indonesia – Insiden miringnya KM Dharma Kartika IX di Pelabuhan Semayang, Balikpapan pada Selasa (27/01/2026) silam mengundang tanda tanya banyak pihak.
Terkait hal tersebut, Dosen Mata Kuliah Pemuatan Kargo dan Penumpang Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Balikpapan, Capt. Aries Setiadi, mengungkap tiga kemungkinan penyebab peristiwa tersebut.
Sebagaimana dilaporkan Propublika pada Kamis (29/01/2026), Capt. Aries Setiadi membeber tiga faktor penyebab kegagalan stabilitas KM Dharma Kartika IX, hingga mengakibatkan kapal tersebut miring dan memakan korban jiwa.
Faktor pertama diduga berasal dari pola pembongkaran muatan yang tidak seimbang. Pembongkaran kendaraan secara masif dari satu sisi dek dapat menyebabkan sisi lainnya kosong sehingga kapal kehilangan keseimbangan.
Kemungkinan kedua berkaitan dengan faktor alam. Meski prosedur pembongkaran telah sesuai standar, ombak besar yang datang secara mendadak dapat menimbulkan hentakan. Pada kapal jenis roll on–roll off (Roro), hentakan tersebut berpotensi menggeser truk di dalam dek.
“Jika terjadi hentakan tiba-tiba, kendaraan bisa langsung bergeser dan memengaruhi stabilitas kapal,” ujarnya.
Faktor ketiga adalah kemungkinan terputusnya tali tambat saat kapal sandar. Kondisi ini dapat memicu sentakan kuat yang membuat kapal bergoyang dan menyebabkan muatan bergeser dari posisinya.
Terkait prosedur keselamatan, Aries menjelaskan seluruh muatan wajib di-lasing atau diikat selama pelayaran. Namun, ikatan tersebut biasanya dilepas setelah kapal sandar untuk keperluan bongkar muat.
“Di tahap ini, peran perwira jaga sangat krusial. Mereka harus mengatur kendaraan yang keluar secara bergantian dari sisi kanan dan kiri agar kapal tetap seimbang,” katanya.
Ia menegaskan stabilitas kapal selama bongkar muat harus berada di bawah pengawasan mualim atau perwira jaga yang bertugas dalam tiga sif selama 24 jam.
“Insiden ini bisa dipicu oleh kombinasi faktor manusia dan faktor alam,” tambahnya.

