Samarinda, Satu Indonesia – Petir, fenomena alam ini bukan sekadar efek dramatis dari cuaca buruk, melainkan pelepasan energi listrik yang bisa mencapai suhu lebih dari 25.000°C, lima kali lebih panas dari permukaan matahari.
Di Indonesia, dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi, risiko tersambar petir bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Setiap tahun, kasus sambaran petir menyebabkan luka serius, kerusakan properti, bahkan kematian. Ironisnya, banyak insiden terjadi karena kurangnya pemahaman tentang cara melindungi diri.
Cara Terhindar dari Sambaran Petir
Seseorang bisa tersambar petir meski sedang berada di dalam ruangan. Meski begitu, risikonya lebih kecil daripada orang yang berada di luar ruangan.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, berikut kiat-kiat untuk menghindari sambaran petir yang bisa Anda lakukan baik saat di dalam maupun di luar ruangan.
- Dalam Ruangan
Usahakan untuk tidak mandi, mencuci piring, atau melakukan kontak langsung dengan air selama badai petir terjadi. Sebab, petir dapat merambat melalui pipa-pipa bangunan rumah.
Matikan dan cabut perangkat elektronik saat terjadi badai petir. Jangan menyentuh peralatan elektronik seperti TV, radio, komputer, laptop, mesin cuci, atau game konsol. Petir dapat merambat lewat sistem kelistrikan, sinyal pemancar radio dan televisi, serta kabel atau batang logam.
Hindari jendela dan pintu rumah ketika badai petir
Hindari menggunakan telepon kabel saat badai petir.
Hindari penggunaan headphone berkabel saat cuaca ekstrem.
Menjauh dari benda logam saat terjadi sambaran petir. Logam yang sering ada disekitar kita meliputi besi, baja, aluminium, emas, perak, tembaga, dan timah.
Agar lebih aman, matikan alat komunikasi seperti smartphone karena sinyal yang dipancarkan dapat memancing petir untuk menyambar.
- Luar Ruangan
Ketika sudah mendengar guntur, segera masuk ke dalam ruangan atau masuk ke dalam mobil agar aman.
Saat berada di kolam renang, segera naik dan menjauh karena petir dapat menghantarkan energi lewat air.
Jangan berlindung di bawah pohon. Sebab, ketika pohon tersambar petir maka energi listrik dapat menyambar tubuh manusia.
Jauhi tiang listrik, menara, atau sesuatu yang tinggi dan mudah tersambar petir.
Ketika berada di taman, lapangan, atau sawah segera menjauh ketika sudah mendengar guntur.
Jangan berbaring telentang di tanah. Cara yang tepat adalah berjongkok dalam posisi tubuh seperti bola dengan kepala diselipkan di antara dua kaki, lalu tangan menutupi telinga.
Atur jarak dengan orang lain agar tidak terkena lonjakan energi.
Jangan berteduh di tebing atau tebing berbatu ketika badai petir.
Jika berada di perairan terbuka, segera kembali ke pantai dan mencari perlindungan.
Jika sedang mengendarai sepeda motor atau mobil dengan atap terbuka (convertible car), segera menepi dan mencari tempat aman untuk berlindung.
Penyebab Manusia bisa Tersambar Petir
Mengutip situs National Weather Service US, sebenarnya tak dapat diketahui secara pasti penyebab seseorang bisa tersambar petir. Meski begitu, secara umum ada sejumlah proses atau cara manusia tersambar petir, yakni sebagai berikut:
– Sambaran Langsung
Sambaran petir langsung sering terjadi ketika korban berada di area terbuka. Sambaran langsung memang bukan penyebab yang paling sering terjadi, tetapi termasuk yang paling mematikan.
Dalam banyak kasus, sebagian arus listrik bergerak tepat di atas dan sepanjang permukaan kulit. Sementara itu, sebagian arus lainnya bergerak melalui sistem kardiovaskular dan sistem saraf.
– Kilatan Samping
Kilatan samping dapat terjadi saat petir menyambar benda yang lebih tinggi dan berada di dekat korban. Sebagian arus melompat dari benda yang lebih tinggi tersebut ke arah korban, sehingga dapat dikatakan korban menjadi sirkuit pendek energi ketika ada pelepasan petir.
Umumnya, kilatan samping terjadi saat korban berada dalam jarak yang cukup dekat. Hal ini sering terjadi ketika korban berteduh di bawah pohon.
– Arus Tanah
Saat petir menyambar pohon atau objek lainnya, sebagian besar energi mengalir ke luar dari kilatan itu, di dalam, dan di sepanjang permukaan tanah. Ketika seseorang berada di dekat kilatan, maka ia berpotensi menjadi korban petir arus tanah.
Selain itu, kilatan tersebut dapat mengalir di permukaan lantai yang memiliki material konduktif. Sambaran petir jenis ini juga berdampak pada area lebih luas daripada jenis petir lainnya. Maka dari itu, kilatan ini disebut yang paling banyak memakan korban.
– Konduksi
Salah satu alasan agar tidak menyalakan perangkat elektronik ketika badai petir adalah karena petir bisa melewati kabel atau permukaan logam yang panjang. Logam tidak menarik petir, tetapi material tersebut menyediakan jalan untuk petir.
Banyak kasus di mana korban sambaran petir di dalam maupun luar ruangan disebabkan oleh konduksi. Ketika seseorang melakukan kontak dengan kabel logam terjulur maka ia berisiko tersambar petir.
– Kilatan ‘Streamer’
Sambaran petir yang satu ini memang tidak umum seperti yang lain, namun seseorang bisa mendapat risiko yang tak kalah besar. Kilatan ‘streamer’ bisa membuat seseorang mengalami luka parah oleh satu sambaran saja.
Mengutip Popular Science, seseorang bisa terkena sambaran petir jenis ini apabila menjadi jembatan konduktif. Untuk mencegahnya, sebaiknya jangan berteduh di bawah pohon atau telentang di atas tanah.
Disarankan segera berlindung di dalam ruangan yang aman seperti rumah, gedung, ataupun ruko. Usahakan untuk tidak menyentuh kabel, logam, air, maupun peralatan listrik saat hujan badai disertai petir.

