Kamis, September 17, 2026
No menu items!

Manis Tapi Berisiko: Kenali Jenis Pemanis Buatan dan Efek Sampingnya

Samarinda, Satu Indonesia – Dalam berbagai jenis makanan dan minuman, kita sangat sering menemui yang namanya pemanis buatan.

Pemanis buatan merupakan pengganti gula yang dihasilkan melalui proses kimiawi. Jenis pemanis ini dinilai memiliki rasa manis yang lebih tinggi dibandingkan pemanis biasa atau gula.

Namun, penggunaan pemanis buatan secara berlebihan bisa memicu berbagai penyakit. Oleh karena itu, penggunaan dan konsumsi pemanis buatan perlu dilakukan dengan bijak dan hati-hati.

Ilustrasi | Freepik/HO

Dalam dunia yang semakin sadar akan kesehatan dan pola makan, pemanis buatan pun telah menjadi bintang kontroversial di meja makan modern.

Berikut beberapa jenis bahan pemanis buatan yang sering kita temui sehari-sehari, serta efek samping penggunaannya!

Jenis-Jenis Pemanis Buatan Serta Efek Sampingnya

Ada beberapa jenis bahan pemanis buatan yang sering digunakan dalam produk makanan dan minuman, yaitu:

1. Aspartam (Aspartame)

Aspartam biasa digunakan sebagai pemanis dalam permen karet, sereal sarapan, agar-agar, dan minuman berkarbonasi. Pemanis buatan ini 220 kali lebih manis daripada gula. Kandungan aspartam terdiri dari asam amino, asam aspartat, fenilalanin, dan sedikit etanol.

Efek samping potensial aspartam ialah sakit kepala dan migrain, gangguan metabolisme (peningkatan berat badan/obesitas), peningkatan risiko diabetes, fenilketonuria (PKU), gangguan perilaku, gangguan pencernaan, dan risiko kanker.

2. Sakarin (Saccharin)

Rasa manis yang dihasilkan sakarin mencapai 300-400 kali lebih kuat daripada gula. Pemakaian sakarin dalam sekali penyajian untuk makanan olahan tidak boleh melebihi 30 mg. Sedangkan untuk minuman, tidak boleh lebih dari 4 mg/10 ml cairan.

Potensi efek samping sakarin ialah reaksi alergi (ruam kulit, gatal-gatal, atau kesulitan bernapas), gangguan pencernaan, gangguan metabolisme gula, ketergantungan pada rasa manis, potensi masalah gigi, mempengaruhi perkembangan janin (risiko bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah, serta risiko kanker kandung kemih pada anak).

3. Sukralosa (Sucralose)

Sukralosa dihasilkan dari sukrosa yang memiliki rasa manis 600 kali lebih kuat dibandingkan gula. Bahan ini biasa digunakan pada produk makanan yang dipanggang atau digoreng. Konsumsi harian sukralosa yang ideal adalah sebanyak 5 mg/kg berat badan.

Efek samping potensial dari penggunaan sukralosa adalah gangguan usus (usus bocor), gangguan mikrobiota usus, penurunan sistem kekebalan tubuh, potensi penyakit autoimun, peningkatan kadar insulin dan gula darah, efek pada kehamilan (gangguan hormon, resiko obesitas), resiko kanker, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, dan penyakit jantung koroner. 

4. Acesulfame Potassium (Acesulfam K)

Bahan ini sangat stabil dalam temperatur tinggi dan mudah larut, sehingga sering dipakai dalam banyak produk makanan. Batasan konsumsi harian yang disarankan untuk acesulfame potassium adalah 15 mg/kg berat badan.

Resiko obesitas, resiko diabetes, gangguan mikrobioma usus, resiko kanker, gangguan fungsi mental dan memori, dan ketergantungan pada rasa manis.

5. Neotam

Bahan pemanis buatan ini banyak digunakan pada makanan rendah kalori. Secara kimia, kandungannya hampir sama seperti aspartam, tetapi rasanya 40 kali lebih manis dari aspartam.

Dibandingkan dengan gula rafinasi, tingkat kemanisan neotam mencapai 8.000 kali lebih tinggi. Neotam dapat dikonsumsi hingga 18mg/kg berat badan dalam sehari.

Potensi bahaya neotam meliputi potensi peningkatan risiko diabetes, reaksi alergi (ruam kulit, gatal-gatal, atau kesulitan bernapas), gangguan metabolisme, ketergantungan pada rasa manis, dan gangguan kehamilan/menyusui.

TERPOPULER

TERKINI

Puskesmas Petung Raih Juara 2 Fasilitas Kesehatan Berkomitmen Tingkat Nasional

Penajam, Satu Indonesia - Juara 2 Tingkat Nasional berhasil diraih Puskesmas Petung, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara.Pada Selasa (15/9/2026) di Jakarta, keberhasilan tersebut...