Beijing, Satu Indonesia – China pada Jumat (18/4/2025) mengkritik Amerika Serikat soal biaya pelabuhan yang baru diberlakukan.
Dilansir dari Anadolu Ajansi, Beijing memperingatkan bahwa tindakan ini pada akhirnya akan merugikan konsumen Amerika dan mengganggu perdagangan global, menurut Global Times yang dikelola pemerintah China.
“Menaikkan biaya pengiriman global, mengganggu stabilitas rantai pasokan, dan meningkatkan tekanan inflasi di AS, yang pada akhirnya merugikan konsumen dan bisnis Amerika, tanpa merevitalisasi industri pembuatan kapal AS,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian.
Lin menyebut tarif pada peralatan penanganan kargo “merugikan kepentingan pihak lain dan dirinya sendiri,” dan meminta Washington untuk “segera menghentikan kesalahannya.”
Ia juga memperingatkan bahwa Beijing akan mengambil “langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah dengan tegas.
Tanggapan tersebut menyusul pernyataan Kamis dari Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer yang menguraikan pendekatan bertahap terhadap biaya pelabuhan. Selama 180 hari pertama, biaya akan ditetapkan sebesar $0.
Setelah periode tersebut, kapal-kapal milik atau yang dioperasikan Tiongkok akan dikenakan biaya berdasarkan tonase bersih per pelayaran AS, dengan tarif yang meningkat seiring waktu. Kapal-kapal yang dibangun di Tiongkok dan dioperasikan oleh operator asing juga akan dikenakan tol di masa mendatang.
Greer mengatakan langkah tersebut ditujukan untuk membalikkan “dominasi Tiongkok,” mengatasi “ancaman terhadap rantai pasokan AS,” dan mendorong permintaan untuk kapal-kapal buatan AS.
Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) kembali menyerang China dengan menaikkan tarif impor dari sebelumnya 145% menjadi 245%.
Kenaikan ini diumumkan Gedung Putih beberapa hari usai China melakukan perlawanan dan mengenakan tarif 125% ke AS.
Merespon tarif ini, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian menegaskan bahwa posisi China selalu jelas.
Lin mengingatkan tak akan ada pemenang dalam perang tarif yang sedang berlangsung. Ia uga menyebut China sebenarnya tidak bersedia terlibat dalam perang dagang namun tak gentar jika harus melakukannya.
Redaksi

