Jakarta, Satu Indonesia – Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri meminta maaf kepada masyarakat atas kasus korupsi impor bahan bakar minyak (BBM) yang menyeret sejumlah pejabat Pertamina.
Dalam konferensi pers yang digelar di Grha Pertamina Jakarta pada Senin (3/3/2025), Ia mengatakan ini adalah ujian besar bagi Pertamina. Dia berkata Pertamina akan terus berupaya menjaga kepercayaan masyarakat Indonesia.
“Saya, Simon Aloysius Mantiri, sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero), menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia atas peristiwa yang terjadi beberapa hari terakhir ini,” kata Simon, dilihat dari YouTube Pertamina, dikutip Senin (3/3/2025).
Untuk itu, Simon menegaskan komitmennya dalam meningkatkan transparansi tata kelola ekspor dan impor minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM).
Dirinya juga menyatakan, upaya ini dilakukan untuk mencegah timbulnya dampak negatif terhadap keuangan perusahaan maupun negara.
“Dengan kejadian ini (dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang), kami akan semakin meningkatkan transparansi dan tata kelola yang baik,” tambahnya.
Dalam hal ini, lanjut dia, Pertamina akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, serta mengevaluasi kembali proses yang ada selama ini.
Temuan-temuan Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang akan menjadi poin-poin yang diperbaiki oleh Pertamina.
“Agar pengelolaan ini tidak memberikan dampak yang negatif terhadap perusahaan atau keuangan negara,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama Pertamina Wiko Migantoro menambahkan bahwa semua sektor dikerahkan untuk meningkatkan swasembada energi nasional, seperti sektor hulu migas maupun hilir.
“Sektor hulu, kami terlibat dalam kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan produksi migas nasional, tujuannya untuk mengurangi impor crude (minyak mentah),” ujarnya.
Wiko juga menyampaikan bahwa pemerintah juga mendukung agar minyak mentah yang diproduksi di dalam negeri dapat diolah di kilang Pertamina.
“Kami telah melakukan upgrading (pemutakhiran) kilang. Saat ini, kilang kita beroperasi cukup baik. Range minyak yang bisa menghasilkan produk yang bernilai ketika diolah di kilang kita juga meningkat,” tukasnya.
Lemipas uji sampel BBM Pertamina
Modus tersebut lantas memantik kekhawatiran masyarakat akan kualitas BBM RON 92 SPBU Pertamina, dalam hal ini Pertamax.
Untuk itu, Lemigas pun telah melakukan uji sampel pada BBM Pertamina, dan menyatakan bahwa seluruh sampel bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang diuji memenuhi spesifikasi yang ditetapkan pemerintah.
Sampel yang diuji berasal dari berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang Selatan, serta Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina Plumpang.
Redaksi

